INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Indonesia dikenal dengan kekayaan budayanya, termasuk dalam bidang musik tradisional. Dari Sabang sampai Merauke, tiap daerah memiliki instrumen dan gaya musik khas.
Di era globalisasi ini, sejumlah musisi dan band Indonesia telah melangkah lebih jauh: menggabungkan alat musik dan elemen musik tradisional dengan genre populer seperti rock, punk, reggae, hingga elektronik.
Perpaduan ini bukan hanya menciptakan warna musik baru, tapi juga menjembatani generasi muda dengan akar budayanya.
Berikut lima band yang berhasil meracik harmoni antara budaya dan musik populer.
1. Primitive Monkey Noose – Punk Rock Bernuansa Banjar
Band asal Kalimantan Selatan ini menjadi unik berkat keberaniannya memasukkan alat musik panting—alat petik tradisional Banjar—ke dalam punk rock yang enerjik.
Panting yang biasanya mengiringi lagu-lagu berirama lembut kini terdengar dalam gebukan drum cepat dan distorsi gitar keras. Hasilnya adalah nuansa musik yang mentah namun kaya akan cita rasa lokal.
Primitive Monkey Noose membuktikan bahwa budaya Banjar pun bisa bersuara lantang dalam skena punk nasional.
2. Lorjhu’ – Sound Eksperimen dari Madura
Lorjhu’, band eksperimental dari Madura, menyuguhkan musik yang menyatu dengan langgam tradisi Madura, seperti gending topeng dan musik saronen.
Dengan memadukan vokal khas Madura dan instrumen tradisional ke dalam struktur musik progresif dan ambient, Lorjhu’ menghadirkan narasi musikal yang tidak hanya eksotis, tetapi juga meditatif.
Mereka menjadikan budaya Madura bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai pondasi utama dalam karya mereka.
3. Navicula – Rock dan Spirit Nusantara
Berasal dari Bali, Navicula dikenal sebagai band grunge dan rock alternatif yang kerap menyelipkan unsur budaya dalam musiknya.
Dalam beberapa karya mereka, terutama yang bertema lingkungan dan spiritualitas, Navicula menggunakan gamelan Bali dan instrumen tradisional lain untuk menciptakan atmosfer etnik.
Mereka juga dikenal sering berkolaborasi dengan seniman lokal untuk menciptakan karya yang berakar kuat pada identitas Nusantara.
4. Sarasvati – Mistisisme Sunda dalam Musik Indie
Sarasvati, proyek musik dari Risa Saraswati, menggabungkan musik indie pop dan rock alternatif dengan sentuhan kuat budaya Sunda.
Mereka menggunakan instrumen seperti kacapi, angklung, hingga suling Sunda, serta elemen cerita rakyat dan horor mistis lokal dalam lirik dan aransemen.
Musik Sarasvati menghidupkan kembali tradisi lisan Sunda dalam kemasan modern, sekaligus membuka ruang diskusi tentang sejarah, mitos, dan spiritualitas lokal.
5. Kande – Rock Aceh Bertabur Rapai
Band asal Banda Aceh ini dikenal karena menggabungkan musik rock dengan instrumen khas Aceh seperti rapai dan seurune kalee.
Kande tidak hanya menampilkan musik yang menggugah semangat, tetapi juga menyuarakan kritik sosial dan nilai-nilai Islam dengan cara yang inklusif.
Dengan lirik berbahasa Aceh dan narasi lokal, Kande menjembatani antara musik modern dan kearifan lokal.
Lima band di atas membuktikan bahwa inovasi dalam musik tidak harus selalu datang dari luar. Justru, dengan menggali kekayaan budaya lokal dan menggabungkannya dengan musik populer, mereka mampu menciptakan identitas musikal yang otentik dan membanggakan.
Di tengah arus globalisasi yang deras, mereka berdiri sebagai bukti bahwa tradisi tidak harus dilestarikan dengan cara-cara lama, tetapi bisa hidup dan dikombinasikan dengan kolaborasi cross-over musik gaya sekarang.





