Oleh Puja Mandela

Saya dengan senang hati keluar dari grup WhatsApp yang isinya hanya share-share-an video pendek tentang politik dan agama, lalu anggota grupnya ramai-ramai menghujat si tokoh yang ada di video tersebut.

Saya tak lagi peduli, mau itu grup pertemanan atau bahkan grup keluarga besar. Saya akan left group. Bagi saya menghabiskan sisa hidup hanya untuk menghujat demi memuaskan prinsip, eh, nafsu kita sebagai manusia adalah hal yang paling sia-sia.

Hidup kita sudah diwarnai dengan begitu banyak perbedaan. Sesama warga Muhammadiyah, misalnya, belum tentu satu pandangan politik. Sesama warga Nahdlatul Ulama, belum tentu punya satu ulama panutan.

Sesama orang Salafi Wahabi pun punya pandangan berbeda soal cara menyikapi pemerintah. Ada yang tunduk dan patuh, tetapi ada pula yang terang-terangan melawan dan tak mengakui keabsahan NKRI. Bahkan, tak jarang sesama Salafi Wahabi terjadi aksi saling tahdzir.

Begitu pun dengan partai politik. Orang yang satu bendera partai, seringkali juga beda ormas keagamannya, beda selera musiknya, beda selera makannya, beda perguruan silatnya, dan beda segala-galanya. Motifnya masuk ke partai pun bisa jadi berbeda. Ada yang sifatnya ideologis, tetapi banyak juga yang kutu loncat dan karena ada kepentingan.

Kalau dijelaskan satu per satu tentu akan panjang sekali. Namun, Anda tentu paham maksud saya. Bahwa sejatinya perbedaan di antara kita terlalu banyak. Apakah semua perbedaan harus diperdebatkan? Apa nggak capek membahas perbedaan yang sebenarnya wajar dan sudah ada sejak dahulu.

Kita akan capek sendiri kalau hanya bicara soal perbedaan, apalagi cuma mencari-cari kelemahan manusia yang dari sononya memang sudah lemah dan sudah digariskan sebagai makhluk yang tak luput dari khilaf kata dan perbuatan.

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Di setiap bagian, ada saja orang yang tidak baik dan merugikan.

Jangankan ‘hanya’ ormas-ormas tadi. Agama Islam pun sudah punya duri sejak lama. Tapi apakah kita rela, orang di luar Islam hanya melihat agama ini dari sosok semacam Dzul Khuwaishirah yang pernah membentak Rasulullah hanya karena Nabi Muhammad dianggap tidak adil saat membagi rampasan perang?

Kita tentu tidak ingin begitu. Sama halnya ketika potongan-potongan video tadi atau saat si ulama khilaf bicara lalu kita hujat habis-habisan. Kalau pun memang tak setuju dengan pemikiran ulama tertentu, ya, sudah, diam. Tak usah ikut-ikutan masuk arena yang sejatinya tak benar-benar kita pahami.

Kita sering merasa paling paham agama, padahal masih sering zalim pada sesama, hobi buang sampah sembarangan, masih suka mengambil hak orang lain, dan masih tergiur dengan kemewahan dunia.

Kita sama-sama tahu bahwa menghujat siapapun, dengan alasan apapun, itu sangat jauh dari ajaran Islam. Apalagi jika yang dihujat adalah ulama, tokoh yang disebut punya ‘daging beracun’. Menghujat ulama selalu ada konsekuensinya.

Ada banyak ulama-ulama zaman dahulu yang mengisyaratkan bahwa di akhir zaman nanti, umat Islam jangan terlalu banyak bicara untuk menghindari fitnah.

Tapi jangankan menuruti nasihat itu, sebagian dari kita malah makin membabi buta mengarahkan lidahnya untuk menuduh ulama A begini, ulama B begitu. Ulama C bodoh karena tidak ikut politik. Tapi giliran ikut politik, ya, masih dihujat juga, karena pilihan politiknya berbeda.

Menghujat ulama atau siapapun itu sejatinya bukan budaya kita. Kita punya budaya Islam yang ramah, toleran, dan penuh kasih sayang.

Tapi sekali lagi semuanya kembali ke diri kita. Mau menghabiskan sisa hidup meneladani akhlak Rasulullah atau menjadi penerus Dzul Khuwaishirah yang kritis, rajin ibadah, hapal Al-Qur’an, tetapi tak punya adab?

*

Penulis adalah Pemred Interaksidotco, alumni pesantren kilat, Interisti, Beatlemania, dan masyhur dikenal sebagai pria yang setia kepada istrinya.

Author