INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Di tanah Banjar, musik tradisi bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan hidup yang menyatu dengan doa, identitas, dan kekuatan kolektif masyarakat.

Nilai inilah yang menjadi dasar penunjukan Kalimantan Selatan sebagai tuan rumah Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2025 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Festival ini menjadi momentum bersejarah bagi Kalimantan Selatan, karena untuk pertama kalinya, musik tradisi lokal akan dipentaskan secara mandiri dalam skala nasional, bukan sekadar menjadi bagian kecil dalam pentas tari atau teater.

Pelaksanaan FMTI 2025 di Banjarmasin merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia World Music Series (IWMS) dan komunitas lokal Akaracita, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kementerian Kebudayaan.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Penjabat Sekda Kalsel, Muhammad Syarifuddin, dalam audiensi bersama Direktorat Film, Musik, dan Seni, pada Jumat (13/6/2025).

Ia menyatakan dukungan anggaran dan kebijakan demi menyukseskan festival, apalagi acara ini akan bertepatan dengan Hari Jadi Provinsi Kalsel.

“Program ini akan kami dukung penuh sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan musik tradisi daerah,” kata Syarifuddin.

Festival Musik
Perwakilan Direktorat Film, Musik, dan Seni dalam audiensi bersama Pemprov Kalsel. Foto: Novyandi Saputra untuk Interaksidotco

Baca juga: 10 Tahun Summerlane: Rilis Video Musik ‘Promises’ dan Siap Tur Asia Tenggara

Baca juga: Dibangun Sejak 1898, Kelenteng Po An Kiong Resmi Masuk Cagar Budaya Kota Banjarmasin

Dukungan juga datang dari Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, yang melihat FMTI sebagai bagian dari perayaan 500 Tahun Kota Banjarmasin. Ia menyebut festival ini sebagai “bentuk nyata kolaborasi dalam pemajuan kebudayaan.”

Secara nasional, FMTI 2025 mengusung tema “Ethnogroove”, yaitu denyut kekinian dalam musik tradisi.

Di Kalimantan Selatan, tema tersebut diterjemahkan menjadi “Antasan Banjar”, sebuah metafora tentang kesinambungan, regenerasi, dan persimpangan antara akar dan arus—antara pelestarian dan inovasi.

Menurut Novyandi Saputra, Direktur FMTI Kalsel, festival ini adalah momen penting karena belum pernah ada event musik tradisi yang berdiri mandiri di provinsi ini.

“Selama ini musik tradisi hanya menjadi pengiring. FMTI adalah panggung utama bagi mereka,” ujarnya.

FMTI Kalsel 2025 dijadwalkan berlangsung pada 29–31 Agustus 2025 di Panggung Siring Balai Kota Banjarmasin. Sejumlah kelompok musik tradisi dari Kalimantan Selatan dan berbagai daerah di Indonesia akan tampil dalam festival tersebut.

Selain pertunjukan utama, panitia juga menyiapkan workshop peningkatan kapasitas musisi, termasuk pelatihan digitalisasi musik.

Ketua IWMS, Amar Aprizal, menyebut FMTI bukan hanya peristiwa seni, tetapi juga ruang pembelajaran dan pemberdayaan.

“Festival ini akan menggerakkan ekosistem musik tradisi—bukan hanya dari sisi pelestarian, tetapi juga penciptaan bentuk baru,” jelasnya.

Guna memperluas dampak ekonomi, FMTI juga menghadirkan Expo Kreatif dan UMKM yang melibatkan pelaku ekonomi kreatif lokal.

“Expo ini menjadi jembatan antara budaya dan ekonomi kerakyatan,” pungkas Amar.

Author