Saya sudah cukup lama mengamati tradisi Manopeng Banyiur. Ketertarikan ini bukan tanpa sebab di kampung saya sendiri juga terdapat ritual yang serupa, dikenal dengan nama Manuping. Kedekatan tradisi ini secara kultural dan emosional membuat saya selalu terdorong untuk menyimak Manopeng lebih dalam, tidak hanya sebagai prosesi spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa budaya yang hidup dan terus mengalami perubahan. Setiap tahun, saya menyaksikan bagaimana Manopeng Banyiur bertumbuh dari sebuah ritus keluarga menjadi perayaan yang lebih terbuka, dan kini dikenal sebagai Festival Manopeng Banyiur. Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada desa, kampung, dan segala bentuk aktivasi warga melalui kesenian, saya merasa senang melihat dinamika yang terjadi bukan hanya di atas panggung, tetapi juga dalam pengelolaan ruang, interaksi penonton, dan upaya menjaga nilai-nilai sakral yang melekat pada ritual tersebut.

Malam itu, saat prosesi ritual berlangsung ada satu momen yang paling membekas dalam pengalaman saya menghadiri Manopeng Banyiur adalah ketika saya diminta naik ke atas ruang ritual. Sebelum melangkah, saya melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan, lalu meminta izin kepada pemimpin ritual yang kebetulan adalah mahasiswa saya sendiri, Ferdi Irawan. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari saya lebih tua dan berposisi sebagai dosennya, dalam ruang ritual ini, semua struktur sosial itu menjadi cair. Sebaliknya, yang berlaku adalah etika kultural yang menjunjung tinggi tatanan spiritual. Maka, saya memohon untuk ditapung tawari sebuah prosesi simbolik penerimaan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan izin agar saya diterima hadir oleh zuriat Manopeng Banyiur. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sangat penting, yang menegaskan bahwa tradisi bukan hanya warisan simbolik, tetapi juga ruang pendidikan etika, tata krama, dan relasi yang sangat dalam antara yang hadir dan yang dihormati.

Di luar nilai-nilai spiritual dan kulturalnya, saya juga tertarik melihat Manopeng Banyiur dari sisi yang lain: yakni sebagai peristiwa ekonomi budaya. Transformasi dari ritus keluarga menjadi festival publik membuka ruang baru bagi partisipasi masyarakat dalam berbagai bentuk dari seniman pertunjukan, pedagang kuliner tradisional, pengrajin, hingga pelaku UMKM yang turut meramaikan suasana sekitar dermaga ritual. Ini bukan sekadar geliat ekonomi musiman, tetapi cerminan bagaimana budaya yang hidup dan dijaga dapat berkontribusi nyata pada kesejahteraan warga. Dalam konteks ini, Manopeng bukan hanya tempat berkumpulnya nilai-nilai leluhur, tetapi juga ruang kolaborasi antara warisan dan kreativitas. Ketika masyarakat datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk terlibat berjualan, tampil, atau berjejaring maka Manopeng Banyiur menunjukkan wajah baru kebudayaan: sebagai penggerak ekonomi yang tetap berpijak pada akar spiritual dan sosialnya.

Tradisi Manopeng Banyiur yang berasal dari kawasan Banyiur Luar, Banjarmasin, adalah salah satu contoh bagaimana upacara sakral yang awalnya bersifat terbatas dan privat kini bergerak menuju format yang lebih terbuka dan inklusif. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini bermula sebagai bagian dari ritus keluarga besar zuriat Haji Ujang. Ia dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ritual tolak bala, serta pengikat silaturahmi internal keluarga. Namun dalam dua dekade terakhir, Manopeng telah mengalami pergeseran bentuk dan fungsi: dari sebuah peristiwa kultural internal menjadi sebuah festival budaya kota yang melibatkan publik secara luas.

Transformasi ini bukan tanpa makna. Ketika Manopeng mulai dibuka untuk umum, ia tidak kehilangan nilai spiritualnya. Justru, perluasan partisipasi menjadikan tradisi ini memiliki konteks sosial yang lebih kuat. Masyarakat luar keluarga kini dapat terlibat, menyaksikan, bahkan menjadi bagian dari ritual tersebut sebuah bentuk pertemuan antara yang sakral dan yang sosial. Di sisi lain, dengan dibukanya ruang publik, tradisi ini mulai menyumbang pada aspek penting lain: ekonomi budaya.

Festival Manopeng Banyiur saat ini menjadi bagian dari kalender budaya Kota Banjarmasin. Ia tidak hanya melibatkan keluarga zuriat dan warga setempat, tetapi juga pelaku UMKM, seniman pertunjukan, komunitas seni, media, serta pengunjung dari luar kota.partisipasi musisi dan penari, hingga pelibatan pedagang kuliner tradisional menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi penggerak ekonomi lokal tanpa kehilangan akar maknanya. Ekonomi budaya bukanlah soal menjadikan budaya sebagai komoditas semata, tetapi bagaimana nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat dapat berkontribusi pada kesejahteraan warganya. Dalam kasus Manopeng, ritual tidak dikorbankan menjadi tontonan kosong. Sebaliknya, pengalaman spiritualnya tetap dijaga seperti kepercayaan akan roh leluhur, kerasukan, doa-doa dan air suci namun dibingkai dalam narasi yang dapat dijangkau dan dipahami oleh masyarakat luas.

Kehadiran festival ini membuka banyak pintu. Ia menjadi ruang pewarisan nilai leluhur kepada generasi muda, baik dari keluarga zuriat maupun dari luar. Ia menjadi wahana ekspresi kolektif, di mana masyarakat bisa merasakan kehadiran sejarah, rasa takut, hormat, dan kagum, dalam satu ruang yang sama. Sekaligus, ia menjadi strategi pelestarian budaya yang relevan dengan zaman, di mana identitas tidak hanya diwariskan tetapi juga dikurasi dan dikomunikasikan ulang.

Pelibatan publik dalam Manopeng juga menjadi peluang kolaborasi lintas sektor. Pemerintah kota, komunitas budaya, pelaku ekonomi kreatif, dan tokoh agama dapat duduk bersama membangun model pelestarian yang berkelanjutan. Hal ini penting agar tradisi tidak tercerabut dari akar spiritualnya, namun juga tidak membeku dalam ruang keluarga yang tertutup. Tantangannya adalah menjaga otentisitas tanpa menutup diri dari perubahan.

Baca juga: “Pesimisme”, Pendidikan Dasar Gratis

Dalam konteks pemajuan kebudayaan, Manopeng Banyiur adalah contoh nyata dari praktik  pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya yang saling menguatkan. Ia tidak hanya menjadi narasi lokal, tetapi juga dapat menjadi referensi nasional: bahwa transformasi tradisi tidak harus menjadi perusakan, melainkan dapat menjadi perluasan makna dan manfaat.

Banjarmasin sebagai bagian dari jejaring kota pusaka Nusantara dapat belajar banyak dari pengalaman ini. Bahwa di tengah tekanan modernitas dan kapitalisme budaya, masyarakat tetap bisa menjaga martabat tradisinya sambil membuka ruang bagi dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Dalam bahasa ekonomi budaya, ini bukan sekadar festival. Ini adalah investasi pada warisan hidup.

Manopeng mengajarkan kita bahwa tradisi bisa lentur namun tidak kehilangan bentuk. Ia bisa terbuka, namun tetap sakral. Dan di sanalah kekuatan kebudayaan: kemampuan untuk hidup, berubah, dan tetap berarti bagi yang melakoni dan menyaksikannya. Dari sebuah rumah keluarga di Banyiur, Manopeng kini telah menjadi rumah bersama. Sebuah panggung spiritual, budaya, dan ekonomi yang tetap berpijak pada tanah leluhur.

Secara ekonomi budaya, Manopeng Banyiur memang telah memberi dampak yang signifikan bagi masyarakat Banyiur.

Perayaan ini membuka peluang ekonomi baru, mulai dari perputaran sektor kuliner, keterlibatan pelaku UMKM, hingga kehadiran pengunjung yang mendongkrak aktivitas warga secara langsung. Namun di balik geliat tersebut, penting pula bagi kita untuk tidak luput memerhatikan sisi lain yang tak kalah esensial: yakni proses ritualnya itu sendiri. Jika hanya difokuskan pada sisi perayaannya, ada risiko tradisi ini menjadi terlalu populis dan kehilangan kedalaman spiritualnya. Maka yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan antara festival sebagai ruang ekonomi dan Manopeng sebagai ruang sakral yang mengikat nilai-nilai leluhur dengan kehidupan hari ini.

Perubahan memang tidak bisa dihindari sebagai wacana ruaang dan waktu, namun penting juga untuk kita dicermati dengan lebih jernih dan hati-hati. Peristiwa kultural seperti Manopeng Banyiur tidak bisa hanya dimaknai sebagai “hiburan”. Ketika sebuah prosesi ritus leluhur yang sakral disederhanakan secara berlebihan dalam sistem kelola menjadi sekadar perayaan budaya, maka yang terjadi bukanlah pelestarian, melainkan pereduksian makna.

Refleksi ini penting disampaikan karena ada gejala yang mengganggu: munculnya pandangan masyarakat yang melihat prosesi ini seperti tontonan biasa. Bahkan dalam beberapa edisi festival, terlihat jelas pengelolaan acara yang mengatur penonton untuk tepuk tangan di titik-titik tertentu, atau mengatur posisi panggung ritual secara teatrikal layaknya pertunjukan seni populer. Batas antara pelaksana ritus dan penonton pun sering kali tidak ditandai dengan kesadaran spiritual, tetapi dengan sekat fisik dan jarak visual yang kaku seolah yang terjadi di atas panggung adalah sandiwara, bukan sebuah peristiwa yang hidup dan menyentuh.

Hal yang paling mengusik nurani adalah ketika muncul respons penonton yang memposisikan ritual ini untuk berbalas kata-kata atau pekikan khas “heya heya heyaaaa” yang biasa terdengar dalam program televisi. Ini bukan sekadar soal etika penonton, tetapi tentang bagaimana sistem pengemasan festival itu sendiri tidak cukup memberi ruang kesadaran akan nilai sakral yang sedang berlangsung. Jika hal semacam ini dibiarkan terus-menerus, saya khawatir masyarakat luas akan semakin memandang tradisi Manopeng Banyiur bukan sebagai warisan spiritual yang luhur, tetapi sebagai tontonan folklorik musiman.

Padahal kekuatan dari sebuah ritual justru terletak pada atmosfernya yang sunyi, khidmat, dan penuh penghormatan. Maka, penting bagi semua pihak keluarga zuriat, pengelola festival, pemerintah, hingga komunitas budaya untuk tidak menyamaratakan prosesi ritual dengan festival populer lainnya. Kesadaran ini menjadi batas penting agar tradisi tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan. Tidak hanya dinikmati, tetapi dimaknai. Karena Manopeng Banyiur, lebih dari sekadar agenda budaya kota, adalah napas panjang sejarah dan spiritualitas masyarakat Banjarmasin yang hidup dari generasi ke generasi.

Penulis: Novyandi Saputra

Author