INTERAKSI.CO, Tamban – Ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) membuat warga Desa Tamban Sari Baru, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala, terpaksa membuang sampah ke sungai atau membakarnya.
Kondisi ini dikhawatirkan memperburuk pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Berangkat dari persoalan itu, mahasiswa KKN Tematik Ilmu Komunikasi 2022 FISIP ULM Kelompok 5 bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Barito Kuala menggelar sosialisasi Edukasi Pengelolaan Sampah, Selasa (12/8/2025).
Kegiatan dipusatkan di Kantor Desa Tamban Sari Baru dan dihadiri perangkat desa, ketua RT 1–7, serta perwakilan lembaga masyarakat.
Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari DLH Barito Kuala, Rizky Supiansyah dari bidang Pengelolaan Sampah. Ia menyampaikan materi seputar sumber, jenis, dan cara pengelolaan sampah. Menurutnya, permasalahan di berbagai daerah mayoritas berasal dari rumah tangga.

Baca juga: Serunya Siswa SD di Tamban Sari Baru Bikin Filter Air dari Sabut Kelapa
Baca juga: Mahasiswa KKN ULM Kenalkan Biofloc dan Nugget Ikan, Bupati Tanah Bumbu Beri Apresiasi
“Sampah atau limbah kebanyakan datang dari cara hidup kita. Kurang lebih 37 persen dari lingkungan rumah tangga,” ungkapnya.
Rizky mengingatkan, sampah yang dibiarkan berserakan bisa memicu penyakit seperti diare. Ia juga mengenalkan jenis sampah organik, anorganik, dan B3 beserta cara pengelolaannya.
“Masyarakat harus bisa memilah sampah. Misalnya, sampah organik bisa dikelola dengan cara membuat lubang biopori atau kompos, dan bisa dijadikan pakan ternak maggot. Sementara sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah dan didaur ulang menjadi ecobrick,” harapnya.
Selain memberi tips pengelolaan, Rizky turut memaparkan aturan terkait pengelolaan sampah, alur birokrasi pembuangan ke TPS, hingga kode warna tempat sampah.
Antusiasme warga terlihat saat sesi tanya jawab, yang dipenuhi pertanyaan, keluhan, hingga saran terkait kondisi di permukiman.

Ketua BPD, Masdi, menyoroti ketiadaan TPS di desa maupun kecamatan.
“Kami (masyarakat) tidak memiliki TPS. Hendak membuang sampah ke sungai maupun dibakar sama-sama membuat polusi udara. Lantas ke mana kami membuang sampah?” tanyanya.
Menanggapi itu, bidang Pengelolaan Sampah DLH Barito Kuala, Khairur Razi, menekankan pentingnya perubahan pola pikir warga.
“Itu bisa diatasi dengan membuat biopori agar dapat menjadi kompos atau juga bisa membuat TPS sendiri, dengan cara mengantar proposal pada kami. Setelah itu kami akan membantu mengambil atau mengantarkan sampah kalian dari TPS menuju TPA,” ujarnya.
Lutfi, staf desa, juga mengangkat persoalan teknis pengangkutan.
“Jika kami sudah memiliki TPS, kemudian ada yang mengangkut sampah menuju TPS, kira-kira bagaimana cara mengantar sampah tersebut ke TPA? Karena tidak ada TPA di kecamatan,” tuturnya.
Khairur Razi pun menjawab, “Bisa mengumpulkan semua sampah di TPS terlebih dahulu, setelah itu hubungi dan buat janji dengan DLH untuk pengangkutan sampah ke TPA. Kami akan membantu,” katanya.
Penanggung jawab program kerja KKN, Ahmad Chomaidi, mengatakan sosialisasi ini berangkat dari hasil survei lapangan.
“Kepala desa menyebutkan saat survei bahwa sampah di desa dibuang sembarangan, entah ke sungai atau dibakar. Hal tersebut membuat kami berinisiatif menjadikan sosialisasi pengelolaan sampah ini sebagai program kerja kami,” ucapnya.
Dirinya berharap, warga Desa Tamban Sari Baru bisa menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle dan perangkat desa membentuk bank sampah sebagai solusi sementara.