INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Mimpi mahasiswa difabel untuk kuliah kini tak lagi terhalang biaya. Sejak 2017, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) membuka pintu selebar-lebarnya bagi mereka, lengkap dengan beasiswa hingga lulus.

Komitmen ini diwujudkan melalui pembebasan biaya kuliah bagi seluruh mahasiswa difabel. 

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ULM, Muhammad Rusmin Nuryadin, menjelaskan kebijakan tersebut merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

“Mahasiswa difabel di ULM mendapatkan beasiswa dari Kementerian sejak masuk hingga lulus. Kami ingin mereka memperoleh kesempatan yang sama, bebas memilih jurusan yang mereka minati, kecuali beberapa program studi yang memiliki keterbatasan teknis seperti kedokteran,” ujarnya, belum lama ini.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Inklusif dan Layanan Disabilitas (P3ILD) ULM, Utomo bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ULM, Muhammad Rusmin Nuryadin. Foto: Humas ULM

Baca juga: 26 Klub Adu Skill di Gubernur Cup Mini Soccer, Bidik Talenta Kalsel ke Piala Dunia

Baca juga: Perunggu Dijadwalkan Manggung di EFTEFEST ULM, Catat Tanggalnya!

Pendidikan inklusif di ULM juga dilengkapi pendampingan khusus. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi mitra yang membantu mobilitas, komunikasi, dan adaptasi lingkungan bagi mahasiswa difabel.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Inklusif dan Layanan Disabilitas (P3ILD) ULM, Utomo, menuturkan semua mahasiswa difabel memiliki hak pendidikan setara, baik dengan hambatan penglihatan, pendengaran, bicara, fisik, maupun autisme. Seleksi penerimaan tetap melalui jalur reguler, seperti SNBP, SNBT, dan mandiri, tanpa pengkategorian khusus.

Dukungan pembiayaan awalnya datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak 2017 hingga 2024.

Mulai 2024, ULM memperkuat dukungan ini melalui kerja sama dengan PT Bayan Resources Tbk (BAYAN). Program beasiswa BAYAN memberi bantuan untuk 20 mahasiswa difabel setiap tahun dan berlangsung hingga 2027.

“Kerja sama ini mencakup empat kali penerimaan dan berlangsung hingga mahasiswa penerima lulus. Kami berharap kemitraan ini dapat berlanjut agar akses pendidikan inklusif di ULM semakin kuat,” jelas Utomo.

Program ini membawa dampak positif bagi mahasiswa. Salah satunya Nur Cinta, mahasiswi jurusan Pendidikan Khusus, yang mengaku bangga bisa kuliah di ULM dan bercita-cita menjadi guru. Sementara Samiyah Mardhatillah menyampaikan rasa syukur karena mendapat kesempatan kuliah gratis serta dukungan penuh dari orang tua.

Dengan kebijakan inklusif ini, ULM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengedepankan kualitas pendidikan, tetapi juga menjamin kesetaraan hak bagi semua warga negara untuk meraih pendidikan tinggi tanpa hambatan.

Hingga 2025, tercatat 90 mahasiswa difabel menempuh pendidikan di berbagai program studi ULM.

Author