INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Dosen dan pengamat musik Sumasno Hadi menilai “Cerita yang Lalu”, single terbaru Puja Mandela sebagai karya yang sarat lapisan makna.

Menurutnya, sejak awal lagu ini sudah memancarkan nuansa kegetiran yang kontras dengan momen pertemuan yang biasanya membahagiakan.

“Situasinya justru tidak enak, terasa kontradiktif. Dalam suasana seperti ini, setiap pendengar pasti punya tafsirnya sendiri. Aku bahkan bisa menafsirkan ini sebagai problem sosial atau global,” ujarnya, kepada interaksi.co, Sabtu (1/11/2025).

Baca juga: Nada, Zaman, dan Ingatan: Membaca Musik Indonesia 1970-an

Lebih jauh, Sumasno menyebut bait terakhir lagu ini sebagai bagian yang paling berhasil secara komposisi. “Rima-rimanya musikal dan terasa puitis,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keberanian Puja Mandela menjaga spirit puisi dalam lirik tanpa terjebak dalam kegelapan makna. “Spirit puisinya mendobrak logika umum, tapi tetap terasa jernih dan tidak berlebihan.”

Dari sisi musikal, Sumasno menyoroti bagian interlude sebagai elemen penting yang menebalkan makna lagu.

“Susunan progresi akordnya enak, dan justru bagian itulah yang memperjelas maksud lagu ini. Kalau fenomenanya kegetiran, ekspresinya seharusnya marah. Tapi di sini tidak disampaikan lewat teriakan, melainkan lewat progresi yang lebih gelap. Di bagian interlude itu pendengar jadi fokus untuk menikmati musiknya. Jadi secara musikal, suasana yang dibangun dari awal sampai reffrain itu lebih terasa,” tambahnya.

Selain aspek musikal, Sumasno juga menyoroti kekuatan simbolik dalam lirik. Ia menyebut diksi “hujan” sebagai salah satu elemen yang paling melekat di ingatan. “Entah kenapa kata itu melekat, seolah mewakili banyak hal—kekhawatiran, kegetiran, tapi juga optimisme di akhir. Ya, begitulah hidup,” tuturnya.

Menariknya, ia menilai “Cerita yang Lalu” tetap dapat dibaca sebagai lagu cinta, namun bukan cinta yang buta atau sentimental. “Kalau pun ini lagu cinta, ini cinta yang realistis,” katanya.

Di penghujung penilaiannya, Sumasno membandingkan lagu ini dengan karya Puja sebelumnya. “Ini lebih puitis dibanding Lagu untuk Nada. Lebih simbolis, lebih metaforis. Tapi tetap seimbang antara lirik dan musik. Tak semua lagu harus puitis—tapi dalam lagu ini, keseimbangannya terasa pas.”

Author