Oleh: Ahmad Marjuni
SETIAP tanggal 10 November, kita diingatkan tentang para pahlawan yang gugur di medan perang. Nama mereka disebut dalam upacara, wajah mereka terpajang di spanduk, buku-buku, uang tunai hingga media sosial. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang sering kita lewatkan. Bahwa pahlawan tidak selalu berseragam, tidak selalu membawa senjata. Kadang, mereka tinggal di rumah kita sendiri.
Lantas Siapa Dia?
Banyak dari kita tumbuh dengan sosok ibu yang bangun paling pagi dan tidur paling larut malam. Saat semua masih terlelap, ia sudah menanak nasi, memasak, menyapu, mengepel, dan menyiapkan baju sekolah anak-anaknya, sungguh mulltitasking sekali. Mungkin dari kita tak pernah mendengar ia mengeluh, meski tubuhnya sering pegal dan matanya sembab karena lelah. Ketika ditanya, “Capek ya Bu?” jawabannya sederhana: “Namanya juga berjuang nak”
Perjuangan memang tidak selalu berarti melawan penjajah. Ada perjuangan yang jauh lebih sunyi, melawan rasa lelah, melawan kelaparan, melawan kekurangan, melawan keadaan agar anak-anaknya punya cita-cita, punya impian, dan hidup yang lebih baik.
Di luar sana, banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang hidup di sekitar kita. Guru di desa terpencil yang mengajar dengan gaji seadanya, guru ngaji, para petani yang tetap menanam meski cuaca tak menentu. Sopir, ojol, perawat, dan pedagang kecil yang bekerja setiap hari demi keluarga. Mereka mungkin tidak disebut dalam upacara, tapi merekalah yang membuat semangat kepahlawanan tetap hidup hingga hari ini.
Pernah suatu hari, dua anak kecil berbincang di sekolah. “Pak guru bilang pahlawan itu yang berjuang lawan penjajah,” kata Abdiel.
“Kalau gitu, ibuku juga pahlawan dong,” jawab Gusti sambil tersenyum.
Kalimat sederhana itu seakan menampar kesadaran kita. Kadang, anak-anak justru paling jujur dalam menilai berbagai hal.
Sekarang, perjuangan tidak lagi di medan perang, tapi di kehidupan sehari-hari. Ada yang berjuang melawan kemiskinan, ada yang melawan ketidakadilan, dan ada pula yang berjuang sekadar bertahan di tengah hidup yang makin berat. Semua itu tetap perjuangan, hanya bentuknya yang berubah.
Di tengah dunia digital, kita sering mencari sosok panutan di layar seperti influencer, tiktokers, selebgram atau tokoh yang hanya viral sesaat. Tidak salah, tapi sesekali mari kita tengok ke sekitar. Mungkin pahlawan sejati itu bukan yang banyak followers, melainkan yang diam-diam memberi arti.
Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita menghargai perjuangan hari ini. Tentang bagaimana kita bisa menumbuhkan semangat kepahlawanan di tengah rutinitas biasa. Kita mungkin tidak bisa seheroik para pejuang kemerdekaan. Tapi kita bisa belajar dari mereka. Caranya dengan melakukan sesuatu dengan hati, dengan niat baik, dan dengan penuh keihlasan.
Jadi, kalau hari ini kamu sempat pulang dan mencium tangan ibumu, lakukanlah. Karena bisa jadi, pahlawan terhebat dalam hidupmu tidak pernah berperang, tapi selalu berjuang untukmu, untuk senyummu setiap hari.
Untuk pahlawannya yang sudah tidak ada, do’akanlah. Pahlawanmu sekarang sedang tersenyum bangga karena kamu bisa menjadi sehebat sekarang. Bangkit berjuanglah pahlawan masa kini!
*
Penulis adalah guru, aktivis sosial-keagamaan, dan pemerhati budaya.





