INTERAKSI.CO, Batulicin – Jurnalis dan musisi Puja Mandela membagikan kisah di balik hadirnya solo gitar dalam single “Lagu untuk Nada”.
Pengisi solo gitar tersebut adalah Yahya Densi, gitaris asal Pagatan yang dikenal jarang tampil di depan publik, tapi punya pengaruh besar di kalangan musisi Pagatan.
Yahya Densi lahir di Kotabaru pada Mei 1977. Ia mengabdi sebagai guru sejak 2003, diawali sebagai CPNS Kabupaten Tanah Bumbu dengan penugasan pertama di SDN Muara Ujung Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir.
Sejak 2009 hingga sekarang, ia bertugas di SDN 1 Batuah. Di luar profesinya sebagai pendidik, Densi dikenal sebagai rujukan musikal, bahkan kerap disebut sebagai “guru musik” bagi banyak musisi Pagatan.
Kedekatannya dengan musik tumbuh dari kebiasaan mendengarkan radio di masa lalu yang memutar musik Barat. Ia melewati era hard rock dan alternatif era 80-90-an, sekaligus akrab dengan rock yang lebih lawas seperti The Beatles, The Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin, hingga Queen.

Pada era festival musik rock yang marak di Kalimantan Selatan pada 1990-an, Densi juga aktif berpindah dari satu panggung ke panggung lain.
Dalam proses produksi Lagu untuk Nada, Puja Mandela mengajak Densi mengisi solo gitar. Namun ajakan itu tidak langsung diterima. Saat itu, “Lagu untuk Nada” sudah nyaris rampung, tapi part solo gitarnya masih belum memuaskan.
“Saya dan Yuda (produser) belum puas. Padahal, proses rekaman itu sampai jam dua malam,” ujar Puja Mandela.
Baca juga: Puja Mandela Rilis Lagu untuk Nada: Pesan untuk Anak dan Dunia
Karena belum puas dengan solo gitar di lagunya, pagi harinya, sekitar pukul tujuh, Puja mengirimkan lagu tersebut kepada Densi agar didengarkan.
Percakapan telepon hampir satu jam pun terjadi. Di akhir obrolan, Puja melontarkan candaan bahwa hanya ada dua orang yang bisa mengisi solo gitar tersebut: Brian May dan gitaris Pagatan itu sendiri.
Candaan itu mencairkan suasana. Densi yang terus-terusan menolak akhurnya menyerah. Mereka tertawa bersama. “Ya, sudah. Sekarang aja.”
Siang hari itu juga, Puja Mandela dan Densi berangkat ke Beehive Home Studio milik Prima Yuda Prawira. Densi menggunakan gitar Fender Stratocaster American Standard milik Puja Mandela. Proses rekaman solo gitar berlangsung singkat, sekitar tiga hingga lima kali take, tak sampai satu jam.
Momen tersebut menjadi karya rekaman resmi pertama Densi sebagai gitaris. Sebelumnya, ia lebih dikenal melalui perannya sebagai pendidik dan unggahan konten gitar di media sosial pribadinya.
Puja Mandela menegaskan alasan memilih Densi. “Saya memang ingin mencari gitaris yang selera musiknya nyambung. Dan Bang Densi adalah orangnya. Saya minta Bang Densi dan Yuda untuk meniru gaya bermain dan sound Brian May. Meskipun tidak 100 persen, hasilnya sudah sesuai dengan yang saya cari,” katanya.
Sementara itu, Densi mengaku proses tersebut membawanya kembali pada gaya bermain yang lama ia tinggalkan. “Saya sudah lama sekali nggak main gitar dengan gaya begini,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kepiawaian Yuda yang bisa menerjemahkan isi kepalanya dan mencari sound yang cocok. Apalagi “Lagu untuk Nada” jadi karya pertama di Beehive Studio yang referensinya merujuk ke musik 60 hingga 70-an.
Di akhir cerita, Puja Mandela menyampaikan terima kasih besar kepada Yahya Densi yang tak hanya berkontribusu pada bagian solo gitar, tapi juga di keseluruhan interlude “Lagu untuk Nada”, sebuah kolaborasi yang lahir dari bujuk rayu, kepercayaan, dan kecocokan selera musik.





