Pertunjukan “Mens Rea” dari Pandji Pragiwaksono, berbuah tuntutan. Atas nama Ormas Keagamaan, merasa tersinggung, menuntut Pandji, melaporkannya ke Polisi, dengan alasan menyalahi norma, etika publik dan menyerang ruang privasi.
Sebagian besar publik tentu saja mendukung Pandji, karena paham bahwa hal tersebut pertunjukan komedi, panggung hiburan yang dibungkus kritik sosial. Apalagi stand-up comedy, semua paham, memang diperuntukkan untuk menyoroti ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, kesewenangan birokrasi dan jabatan publik, dan tentu berbagai kemunafikan moral.
Kritik di ruang publik, menyangkut kepentingan publik, adalah keniscayaan dari alam demokrasi yang memberikan kebebasan bagi siapapun berpartisipasi.
Semakin terbuka dan tahan terhadap kritik, semakin dewasa cara bersikap dan bertindak. Sebaliknya, bila sedikit dikritik berujung laporan dan tuntutan, berarti diskursus sosial di ruang publik, tidak tahan terhadap kritik, yang berarti kurang dewasa.
Kebudayaan Banjar memiliki satu ungkapan luar biasa, yang menggambarkan kedewasaan dan kejenakan dalam menerima kritik. Bukan hanya kritik yang jelas benar, bahkan yang bohong sekali pun, hanya ditertawakan dengan ungkapan diwaluhinya.
Diwaluhi, atau diberi waluh (labu) pasti enak. Waluh bukan hanya enak disayur. Juga enak dibikin kue. Ada pais waluh, kolak waluh, lempeng waluh, bingka waluh, roti waluh, dan sebagainya. Waluh makanan kesukaan orang Banjar, terutama di hulu sungai.
Hati gundah gulana, ketika disajikan pais waluh yang masih panas, ditemani secangkir kopi atau teh, seketika berubah ceria, hilang kegundahan. Begitu nikmatnya waluh, hampir semua anak balita Banjar, waktu kecil diberi makan waluh yang dicampur dengan bubur atau nasi lembek. Waluh dipenyet bersama nasi, menjadi nikmat sekali.
Ketika janji manis disampaikan, dan janji itu sebenarnya bohong, orang banjar menyebutnya diwaluhinya. Karena janji yang nyaman, menghibur hati, mungkin setara kenyamanannya dengan waluh, dan ketika tidak benar, berubah menjadi diwaluhinya.
Diwaluhinya, berarti dibohonginya. Bohong dalam kontek ini masih dianggap menyenangkan. Karena bohong yang menghibur. Entah bagaimana bentuk bohong yang menghibur itu. Yang pasti, setelah diwaluhi, orang masih bisa tertawa, bahkan terpingkal-pingkal menertawan kebodohan.
Orang Banjar memiliki selera humor yang tinggi. Berbagai cerita menghibur, biasa disampaikan dalam setiap kesempatan. Cerita-cerita tersebut bisa saja bohong, atau lebih tepatnya imajiner, namun menyenangkan sebagai candaan.
Dalam arti lebih jauh, diwaluhinya juga diartikan sebagai dibodohi atau dibunguli. Biasa disebut juga dengan dipintari, yang berarti dibodohi. Akhirnya, semua itu disebut diwaluhi. Berbagai cerita manis, mengumbar berjuta harapan yang bersifat bohong, disebut diwaluhi.
Jangan terlalu dipikirkan cerita bohong, janji palsu, atau berbagai kata manis setara gombal. Anggap waluh, agar lebih nikmat, gurih, nyaman. Kebohongan yang tidak terlalu dianggap, akan menguap ke udara dan hilang terbawa angin.
Begitu arifnya kebudayaan Banjar, memiliki kesadaran, kontrol, agar tidak mudah termakan berita atau janji bohong.
Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Sering kali mendengarkan kebohongan, justru lebih asyik bila ditertawakan.
Bila mampu menertawakan, kebohongan yang menyakitkan sekali pun, dapat menjadi hiburan. Bahkan terhadap sesuatu yang disampaikan dengan mimik serius, seperti halnya “Mens Rea” dari Pandji Pragiwaksono, jangan terlalu masuk ke hati, sisakan ruang untuk mengantisipasinya, walau yang disampaikan realita sosial, jangan-jangan sebagian hanya diwaluhinya, untuk menghibur secara cerdas, sambil mengobok-obok nalar dan daya kritis.
Oleh: Noorhalis Majid





