INTERAKSI.CO, Batulicin — Sejak dulu, lagu bertema kelas pekerja sudah banyak lahir. Namun, tak banyak musisi yang mengambil perspektif dari keresahan ojek online (ojol).

Alinea Baru, unit synthwave asal Batulicin, Kalimantan Selatan, membaca keresahan itu. Mereka, yang sebelumnya bernama Selumbari, merilis single terbaru, “Tanpa Aplikasi”, yang secara terang-terangan menggugat sistem ojol di Indonesia.

Eza, Iqbal, dan Erwin menyoroti bagaimana sistem algoritma dalam aplikasi ojol dinilai tak benar-benar berpihak pada para pengemudi. Lagu ini jelas punya potensi menjadi anthem bagi komunitas ojol di Indonesia.

Isu sosial dan kritik terhadap “sistem aplikasi” tersebut disampaikan lewat balutan synthwave bergaya 80-an dengan pendekatan modern, di bawah komando Prima Yuda Prawira sebagai produser.

Selain musik yang kaya warna dan tekstur bunyi, liriknya padat, nyaris tanpa ruang kosong. Transformasi vokal Eza menjadi salah satu poin paling mencolok. Jika sebelumnya ia identik dengan lagu-lagu overmelankolis berisi lirik pemujaan berlebihan terhadap perempuan, kini pendekatannya berubah drastis.

Kalau dulu warna vokalnya terasa hanya cocok di telinga ABG labil, kini suaranya terdengar lebih tegas dan matang, tanpa dramatisasi berlebihan.

Prima Yuda Prawira adalah sosok penting di balik perubahan gaya bernyanyi Eza. Yuda seperti berhasil menariknya keluar dari kecenderungan musik pop medioker yang terlalu berkiblat pada band-band Indonesia medio 2000-an yang prestasinya biasa-biasa saja dan tak lagi relate untuk generasi hari ini.

Dalam lagu ini, Eza bernyanyi dengan pendekatan semi-rap dan energi yang lebih bertenaga. Meski aransemen musiknya padat, artikulasinya tetap terdengar jelas. Pesan lagu tetap tersampaikan bahkan tanpa harus membaca lirik. Proses mixing yang presisi turut menentukan keberhasilan bagian ini.

Bagian menarik hadir pada menit 2:30. Interlude di titik tersebut terasa ekspresif; atmosfer berubah menjadi lebih gelap dan intens, sekaligus menaikkan tensi lagu secara keseluruhan. Ini adalah part interlude terbaik yang dibuat oleh Yuda sejauh ini.

Keberanian Yuda menulis tema keresahan sosial juga patut mendapatkan payung cantik atau malah hadiah umrah, mengingat beberapa lagu yang ia tulis sebelumnya tak jauh dari urusan cinta—tema yang sudah sangat surplus di industri musik populer.

Yuda bahkan cukup berani menyelipkan nama “Mas Sapardi” dalam liriknya—sesuatu yang mungkin tak akan ia lakukan tiga, lima, atau sepuluh tahun lalu. Gambaran keresahan atau bahkan kekecewaan ojol tersampaikan dengan baik. Misalnya dalam penggalan lirik, “Karena aku terbawa emosi/kalau lewat aplikasi/potongannya sangat tinggi sekali.

Sekarang tinggal seberapa serius Alinea Baru bersama tim mempromosikan single “Tanpa Aplikasi”. Untuk memperluas jangkauan, idealnya mereka punya tim medsos dan konten tersendiri. Seperti kata pepatah hari ini, satu lagu dengan seratus konten jauh lebih baik daripada seratus lagu, tapi hanya punya satu konten. Selain itu, membangun jejaring di luar Kalimantan Selatan juga wajib dilakukan sekaligus menguji bagaimana orang-orang di luar sana merespons lagu ini.

“Tanpa Aplikasi” sudah dapat didengarkan di Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan berbagai platform streaming lainnya. Video liriknya juga sudah tayang di YouTube.

Rate “Tanpa Aplikasi”: ⭐⭐⭐⭐

Author