INTERAKSI.CO, Samarinda – Tradisi berbuka puasa dengan sajian bubur peca terus lestari di Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda Seberang.
Setiap Ramadan, masjid kayu yang dibangun pada 1881 ini menjadi pusat kebersamaan warga melalui kegiatan memasak dan berbagi makanan secara gotong royong.
Bubur peca bukan sekadar menu berbuka. Hidangan berwarna kuning dengan aroma rempah kuat ini telah menjadi warisan turun-temurun masyarakat sekitar, bahkan diperkirakan sudah berlangsung ratusan tahun.
Hingga kini, tradisi tersebut masih dijaga dengan penuh kesadaran oleh warga, tanpa bergantung pada anggaran khusus.
Baca juga: Wali Kota Banjarmasin Instruksikan Seluruh Kepala SKPD Hadir, Jawab Langsung Tuntutan Demonstran
Pada hari pertama puasa Ramadan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026), enam ibu-ibu mulai memasak sejak pukul 08.00 WITA. Sekitar 25 kilogram beras diolah menjadi kurang lebih 300 porsi bubur peca untuk jemaah yang datang berbuka.
Ketua Tim Dapur, Mardiana, menjelaskan seluruh bahan berasal dari sumbangan masyarakat. Mulai dari beras hingga lauk pauk seperti telur, ikan, atau ayam, semuanya dikumpulkan secara sukarela.
“Dari pagi sampai siang kami masak bersama. Bumbu kami siapkan sendiri, sumbangannya dari masyarakat. Lauknya kadang telur, kadang ikan, kadang ayam, semuanya dicampur ke bubur peca,” ujarnya.
Cita rasa bubur peca dikenal khas karena kaya rempah. Campuran bawang merah, bawang putih, jahe, kayu manis, pala, santan, kaldu ayam, serta bumbu kari menciptakan rasa gurih hangat yang pas disantap setelah seharian berpuasa. Keunikan inilah yang membuat bubur peca berbeda dari bubur pada umumnya.

Mardiana sendiri telah menjadi juru masak utama selama 22 tahun. Keahliannya diwariskan dari generasi sebelumnya, yang juga menerima resep dan teknik memasak dari para orang tua terdahulu.
“Ini sudah dari nenek buyut. Kami hanya melanjutkan supaya tradisi buka bersama ini tetap ada,” katanya.
Bagi jemaah, bubur peca menyimpan nilai emosional tersendiri. Ramadhan (45), warga Samarinda Seberang, mengaku hampir setiap tahun berbuka di masjid tersebut karena rasanya yang khas dan suasana kebersamaan yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Rempahnya terasa sekali, dan suasananya hangat karena makan bersama-sama. Setelah itu langsung salat Maghrib dan tarawih berjamaah,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Sopian (50). Menurutnya, tradisi ini mengajarkan makna berbagi dan kepedulian sosial.
“Semua makanan dari sumbangan warga, tapi bisa dinikmati banyak orang. Sederhana, tapi berkesan,” ujarnya.
Menjelang azan Maghrib, ratusan jemaah duduk bersila di dalam masjid berusia lebih dari satu abad itu. Aroma rempah dari dapur bercampur dengan lantunan doa, menghadirkan suasana Ramadan yang khusyuk dan penuh kehangatan.
Di tengah modernisasi kota, tradisi bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa tetap hidup melalui praktik sederhana: memasak bersama dan berbagi sepiring bubur hangat dengan tulus.





