Oleh: Puja Mandela

Di Pasar Minggu yang berdebu, sekira tahun 2012, Tato A. Setyawan mengambil sebuah novel, membuka halaman demi halaman, lalu ia terkejut setelah melihat bahwa novel itu ditulis oleh penulis dari Batulicin.

Pada era itu, para sastrawan di Tanah Bumbu belum ada yang masuk ke sastra-novel atau cerpen. Mereka lebih asyik bergulat dengan sastra-puisi, sehingga keberadaan seorang novelis memang sebuah anomali. Belum lagi buku itu ditemukan di lokasi yang jauh dari tradisi sastra.

Sekadar diketahui, Pasar Minggu yang hari ini bernama Pusat Niaga Bersujud merupakan sebuah tempat jual beli aneka barang seperti pakaian, pecah belah, hingga CD bajakan. Wajar jika Mas Tato terkejut, karena di antara lapak buku alat tulis kantor, ia menemukan novel itu.

Kota Batulicin di era itu masih sangat berdebu. Tak ada tempat nongkrong yang disebut sebagai kafe, belum ada ruang terbuka hijau, dan truk pengangkut material dengan logo perusahaan tertentu masih hilir mudik di aspal berlapis tanah merah. Saat malam hari, suasananya tak seromantis saat ini yang sudah dipenuhi lampu-lampu jalan.

“Siapa penulis novel ini?” batin Mas Tato saat itu.

Upaya pencarian dimulai. Mas Tato yang hobi mengoleksi buku sedikit mendapat informasi dari si pedagang buku itu bahwa si penulis novel tinggal di satu tempat. Ia lantas melanjutkan pencarian dengan bertanya kepada siapa saja yang mungkin mengetahui keberadaan penulis itu.

Dan, ya, akhirnya ketemu. Ia adalah pedagang burger yang tinggal di dalam kedai berukuran 1×2 meter persis di depan hotel berlantai dua di wilayah Simpang Empat. Dari kedai itulah, novelis misterius itu mengetik huruf-huruf menggunakan laptop bututnya.

Sambil berjualan burger, di situlah ia menuangkan ide dan cerita-ceritanya yang jauh lebih pahit dari ampas kopi. Mas Tato sempat celingak-celinguk karena tak menemukan kamar kecil di sekitar kedai. Untuk aktivitas yang satu itu, ia ternyata numpang di tempat milik orang lain, tak jauh dari hotel.

Mas Tato lantas memperkenalkan si novelis kepada kawan-kawannya yang tergabung di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kabupaten Tanah Bumbu. Singkat cerita, pertemuan berlangsung hangat dan kedai burger itu jadi markas dan tempat nongkrong alternatif anggota KSI Tanah Bumbu, selain di Kantor Radio Nirwana Batulicin milik M. Johansyah, seorang penyair produktif yang juga sangat apresiatif.

Tahun 2012, dengan bantuan kawan-kawan KSI, si pedagang burger itu merilis novel terbarunya: Lelaki Duka. Judul itu merupakan hasil saran dari Mas Tato yang menganggap judul awalnya terlalu klise. Novel itu kemudian dipromosikan ke seluruh media cetak di Kalsel, dan Mas Tato juga ikut menulis resensinya sebagai bentuk apresiasi.

Pada masa yang kurang lebih sama, KSI menerbitkan buku antologi Puisi Penyair Tanah Bumbu yang rilis pada tahun 2012. Dua buku ini, bersama buku “Tragedi Buah Manggis” yang dirilis satu tahun sebelumnya, adalah jejak-jejak perjalanan dunia literasi Tanah Bumbu yang sedikit-sedikit masih bisa saya ingat.

Api literasi yang lahir pada masa penuh debu itu memang kecil, tetapi sudah mulai dinyalakan. Dimulai dari eksistensi Komunitas Sastra Indonesia, lantas lahirlah banyak nama lain yang menyusul di belakangnya dengan visi dan misi yang mirip-mirip. Misalnya Komunitas Bagang Sastra atau Majelis Hahahihi yang muncul pada periode 2015-2016. Mereka tidak muncul di tempat yang ramai, tetapi jejak-jejaknya masih bisa ditemukan sampai hari ini.

Empat belas tahun setelah Mas Tato menemukan novelis yang menyamar menjadi pedagang burger, kata “literasi” sudah bertebaran di mana-mana; di baliho raksasa, di spanduk ujung gang, di flyer media sosial, di jalanan perdesaan, dan alokasi anggaran untuk mengkampanyekan literasi sudah bernilai miliaran di APBD.

Literasi bukan lagi aktivitas sunyi yang dilakukan segelintir orang-orang kesepian yang menghibur diri dengan puisi atau membaca novel dengan sarang laba-laba di sudut ruang perpustakaan. Ia bukan lagi sesuatu yang asing. Literasi hari ini sudah menjadi budaya pop dan familier di telinga banyak orang, termasuk Generasi Z dan Alpha.

Komunitas-komunitas pun terus bertumbuh. Aktivis-aktivis muda terus bermunculan, dan program pemerintah bergerak setiap tahun. Armada butut milik Dinas Perpustakaan yang dahulu diandalkan untuk membawa buku-buku usang, kini sudah berganti dan enak dipandang.

Jika pada 2021, event bedah buku di kafe masih terdengar asing, maka hari ini setiap orang bisa membedah bukunya di mana saja, tanpa takut ada orang yang mengernyitkan dahi saat melihatnya. Orang-orang bisa menggelar lapak baca di ruang terbuka hijau atau di bandara. Komunitas-komunitas literasi juga banyak muncul di sekolah-sekolah.

Akan tetapi, seperti lagu viral yang terlalu banyak diputar, lama-lama bikin eneg juga. Seorang dosen yang namanya sengaja tak saya sebutkan beberapa kali menghindari kata delapan huruf yang dimulai dari huruf L itu. Dalam satu kegiatan, ia bahkan tak mewajibkan mahasiswanya untuk melakukan salam literasi. “Mulai sekarang mari berhenti foto dengan jari L sambil bilang salam literasi, karena faktanya kondisi minat baca dan tulis belum sepenuhnya selamat,” katanya.

“Coba tanya beberapa audiens soal bacaan yang sedang mereka baca dalam minggu ini. Tanya alasannya mengapa dia baca itu? Karena dipaksa pekerjaan atau karena dia menganggap bacaan sebagai kebutuhan primer seperti makanan dan minuman bagi jiwa? Jika ada, coba minta ceritakan apa makna bacaan bagi dirinya dan orang lain. Kalau ada audiens yang seperti itu, beri dia buku atau gopay buat beli buku,” begitu Pak Dosen berkata.

Ya, jangan-jangan yang kita atau Anda lakukan selama ini hanya sekadar lipstik dan masih jauh dari spirit literasi itu sendiri?

Coba kita mengambil cermin. Di cermin itu akan muncul banyak pertanyaan: sudah sejauh mana peningkatan literasi masyarakat kita? Kalau meningkat, apa indikatornya? Apa tolok ukurnya? Kalau ternyata tidak naik, apakah jalan di tempat, mundur, atau sebenarnya hanya kata literasinya yang banyak di mana-mana?

Kita juga bisa bertanya: sudah berapa banyak penulis baru lahir? Sudah berapa karya yang dirilis, didiskusikan, dan laku dijual? Dan jika di era Dinasti Abbasiyah, Khalifah Al Makmun bisa membangun peradaban dengan mengadopsi ilmu pengetahuan klasik, di antaranya dari Yunani dan Persia, dan menerjemahkannya di Bayt al-Hikmah, Baghdad, lantas peradaban apa yang lahir dari anggaran miliaran itu?

Dan tentu saja, hari ini, literasi tak lagi berhenti pada sastra, aktivitas baca tulis konvensional, dan seberapa banyak koleksi buku di rak lemari rumah kita. Ia meluas ke ruang yang lebih berisik: media digital. Tak semuanya berdampak buruk. Namun, digitalisasi yang terjadi hari ini di satu sisi akan membuat semuanya serba cepat dan praktis, tetapi juga berpotensi makin menggerus imajinasi, kedalaman, dan dialektika alamiah antara manusia dengan ilmu pengetahuan.

Mungkin di titik ini, kata literasi boleh ada di setiap sudut kota. Tapi bisa jadi di tengah keramaian, sebenarnya ia merasa kesepian, sendiri, dan kosong. Orang-orang membutuhkan namanya, karena ada yang bisa mereka hasilkan dari situ. Orang-orang mendekatinya, karena mereka bisa mendapatkan popularitas dari kata itu. Dan selama kita tidak punya sikap dan kesadaran untuk memahami literasi secara utuh, ia tidak akan kemana-mana. Ia hanya akan menjadi mainan yang kalau sudah tak seksi lagi, bisa dibuang kapan saja. Dan jangan sampai niat yang baik untuk membangun peradaban yang cerdas justru malah melahirkan generasi-generasi yang puber. Puber literasi.

Dalam kondisi seperti ini, salam literasi bisa jadi tidak kita perlukan lagi. Sebab, di depan kedai burger itu, tak pernah ada kata literasi.

Author