INTERAKSI.CO – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 12 Oktober 2026.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami anak usia 0 hingga 5 tahun. Data ini menjadi perhatian karena asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk dan ISPA hingga sesak napas.
Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan asap. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika kualitas udara memburuk.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat kondisi udara tidak sehat. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat agar perlindungan terhadap partikel halus lebih optimal.
Penggunaan masker perlu disertai upaya mengurangi paparan asap, seperti membatasi kegiatan di luar ruangan dan menjaga agar udara di dalam rumah tetap bersih sejauh memungkinkan.
Orang Tua Diminta Waspadai Gejala pada Anak
Kewaspadaan khusus diperlukan bagi orang tua yang memiliki bayi dan balita. Anak yang terpapar asap karhutla perlu dipantau apabila mengalami batuk, gangguan pernapasan, atau perubahan kondisi tubuh.
Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul gejala berbahaya, seperti sesak napas, napas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan menyusu dan minum.
Penanganan sedini mungkin penting untuk mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Masyarakat juga diharapkan tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar asap dalam waktu tertentu.
Tingginya jumlah kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menunjukkan pentingnya perlindungan kesehatan selama kualitas udara memburuk. Selain mengurangi paparan asap, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan kesehatan dari instansi berwenang.





