INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian memprihatinkan. Kualitas udara dilaporkan berada pada level sangat berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 2.560.
Pekatnya asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas dan kenyamanan warga, terutama anak-anak yang terpaksa beraktivitas di tengah kepungan asap.
Dalam situasi tersebut, terlihat sejumlah anak kecil berlarian untuk menghindari asap karhutla yang mengepung akses jalan di permukiman mereka. Salah seorang anak bahkan dilaporkan hampir muntah karena tidak tahan menghirup asap pekat.
Kondisi ini menggambarkan beratnya dampak karhutla bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Asap yang menyelimuti jalan permukiman membuat warga harus berhadapan dengan risiko paparan saat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Situasi serupa juga terjadi di jalan protokol Kota Palangka Raya. Seorang anak bersama ayah dan ibunya mengalami iritasi mata dan kesulitan bernapas saat melintas di tengah kabut asap.
Beruntung, tim yang berada di lokasi bergerak cepat memberikan masker kepada keluarga tersebut. Mereka juga diminta segera menjauh dari kawasan dengan konsentrasi asap yang sangat pekat untuk mengurangi paparan.
Anak-anak Rentan Terdampak Asap Karhutla
Partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Paparan asap dapat memicu iritasi mata, batuk, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit paru.
Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak pencemaran udara. Karena itu, orang tua perlu membatasi aktivitas anak di luar ruangan, terutama ketika kabut asap semakin pekat.
Warga juga diimbau menjauhi titik kebakaran dan kawasan dengan asap tebal. Jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya, segera cari bantuan medis.
Kondisi di Palangka Raya menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Penanganan kebakaran serta perlindungan warga, khususnya anak-anak, menjadi hal mendesak ketika kualitas udara memburuk.





