Oleh Puja Mandela

Agak sulit mewawancarai guru yang satu ini. Bukan karena dia tak mau memberikan jawaban, tetapi setiap pertanyaan serius yang saya ajukan selalu dia jawab dengan cengengesan dan celotehan khas-nya: anu.

Setelah nyaris lima menit tak menghasilkan apa-apa, akhirnya Muhammad Luthfi, bisa menjawab dengan jujur sekaligus lugas terkait guru penggerak, program yang dia bawa sebagai calon guru penggerak, dan beberapa hal terkait dunia pendidikan.

Dalam acara Lokakarya 7 Festival Panen Hasil Belajar Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke-10 yang berlangsung di Pendopo Serambi Madinah pada Jum’at, 25 Oktober 2024, pria kelahiran Jombang 41 tahun lalu itu membawa dua program andalannya yakni Habsyi dan Tahfizul Qur’an.

Untuk diketahui, Muhammad Luthfi sudah menjadi pengajar sejak 2009 silam.  Saat ini dia mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 5 Simpang Empat. Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SDIT Al Fath, mengajar di SMKN 2 Simpang Empat, MI dan MTs Sunan Giri Surabaya.

Kali ini interaksidotco meminta Gus Luthfi, begitu panggilan akrabnya, untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar dunia pendidikan seperti yang sudah disampaikan di atas. Berikut petikan obrolan dan wawancaranya:

Dalam Lokakarya 7 kemarin, Anda membawa program apa?

M. Luthfi: Habsyi dan Tahfizul Qur’an. Itu berupa eskul. Tujuannya untuk meningkatkan potensi di bidang seni budaya dan Pendidikan Agama Islam. Karena dalam budaya Banjar, setiap acara pasti menggunakan rebana dan maulid habsyi. 

Kalau tahfizul qur’an, sekarang sekolah-sekolah itu masih menganggap tahfizul qur’an menjadi salah satu prestasi yang patut untuk diperhitungkan. Di kampus pun begitu. Kalau ada sertifikat tahfiz Qur’an, mereka bisa mendapat beasiswa. 

Kenapa Anda tertarik ikut program Guru Penggerak?

Ya, untuk mengembangkan potensi diri.

Menurut Anda apa potensi terbesar seorang Muhammad Luthfi?

(Mikir lama) Anu… Manajerial dan kolaborasi. Manajerial itu, apa ya, kepemimpinan.

Oh, jadi Anda punya jiwa sebagai seorang pemimpin?

(Mikir lama lagi). Pertanyaannya agak berat ini, Mas.

Pertanyaan itu masih wajar. Karena saya mewawancarai calon guru penggerak, calon kepala sekolah. Nggak mungkin saya bertanya tentang lima makanan favorit.

Hahaha…(Tertawa terbahak-bahak).

Jadi, bagaimana? Wawancaranya bisa dilanjutkan?

Oke…

Apa sebenarnya fungsi dan tugas Guru Penggerak Itu?

Guru Penggerak itu adalah agen perubahan untuk dunia pendidikan. Kompetensi yang diterima oleh Guru Penggerak dan diajarkan kepada pelajar itu untuk memajukan dunia pendidikan.

Anda optimis bisa melakukan itu?

(Mikir lama). Baik guru penggerak atau bukan, kesadaran sosial, emosional, dan kolaborasi harus dilakukan. Kolaborasi itu penting. Kolaborasi itu nomor satu!

Menurut Anda, apa masalah utama di sekolah saat ini?

Bagaimana mengatasi potensi siswa yang berbeda-beda, juga bagaimana mengatasi siswa yang bermasalah. Budaya kita kan masih suka menghukum siswa. Agak otoriter. Sedangkan guru tidak diajarkan seperti itu, tetapi melalui pendekatan psikologi dan teknik coaching. Masalah pada siswa kebanyakan masalah psikis, bukan fisik.

Ke depan apa yang akan dilakukan Guru Penggerak?

Oleh Pak Menteri, Guru Penggerak diproyeksikan menjadi agen perubahan pendidikan di sekolah dan pemimpin pembelajaran. Kompetensi yang diterima akan diimbaskan kepada warga belajar di sekolah untuk memajukan dunia pendidikan.

Saat ini Guru Penggerak masih di anggap sebelah mata oleh sebagian guru lainnya. Bagaimana tanggapan Anda?

Ya, karena mereka belum memahami esensi dari pelatihan Guru Penggerak.

Ada pelatihan apa dalam kegiatan Guru Penggerak?

Banyak. Ada filosofi pendidikan menurut KHD, pembelajaran berdiferensiasi, teknik coaching, dan kolaborasi identifikasi aset sekolah yakni kolaborasi aset manusia, aset fisik, dan sosial budaya. Jadi yang dimaksud aset bukan cuma soal benda.

Sekarang begini. Katanya Guru Penggerak sering menghadiri kegiatan di luar dan meninggalkan kewajibannya sebagai pengajar. Bagaimana tanggapan Anda?

(Mikir lama). Di mana pun, kalau pelatihan sudah pasti meninggalkan tempat kerja. Itu bisa diatasi dengan, misalnya, guru piket. Di mana pun pelatihan itu begitu.

Tapi itu bisa menimbulkan kecemburuan, ‘kan?

Hmm… Bisa. Bisa. Makanya pendekatan kolaborasi itu penting. Itu hal yang lumrah terjadi di sekolah manapun.

Ini pertanyaan terakhir. Setelah pergantian Presiden dan Menteri Pendidikan, program Guru Penggerak ini kan punya potensi untuk ‘tidak bergerak’. Bagaimana tanggapannya? 

(Tertawa). M. Luthfi tidak menjawab pertanyaan ini.

 

 

 

 

Author