INTERAKSI.CO, BanjarmasinAkaracita menutup fase hulu Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Antasan Banjar 2025 dengan penampilan musik etnik kontemporer di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Rabu (20/8/2025) malam.

Novyandi Saputra, Khalifaturridho, Marcel Adhi Wibisono cs berhasil memukau penonton lewat alunan Gamelan Banjar yang dipadukan dengan vokal menyerupai mantra ritual.

Anda tidak salah dengar soal mantra ritual. Karya terbaru Akaracita terinspirasi dari kata Bahasa Dayak, Mamang yang berarti ritual. Kemudian itu dijadikan nama album berjudul Mamang: Words and Wonder.

Dalam pentas ini, mereka membawakan Pangasih, Timang, dan Tahur Dahar, lagu yang menjadi official theme song FMTI Antasan Banjar 2025.

FMTI Antasan Banjar 2025
Penampilan Akaracita di penutup fase hulu FMTI Antasan Banjar 2025. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Baca juga: FMTI Antasan Banjar Siap Digelar 29–31 Agustus Mendatang

Baca juga: Dialog Etnomusikologi Kupas Eksplorasi Bunyi Sungai di Kalsel

Mutia Azzahra, mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan ULM asal Kalimantan Tengah, mengaku terkesan dengan penampilan tersebut. Dirinya yang terbiasa mendengar instrumen Jawa dan Dayak, merasakan pengalaman berbeda.

Menurut Mutia, musik tradisi Banjar punya keunikan tersendiri. Alunan vokal sama alat musiknya khas, kata dia, sangat kental menunjukkan identitas dari budaya Banjar.

“Sebelumnya cuma menonton (musik tradisi Banjar) dari Handphone. Ternyata, nuansanya beda dengan menonton penampilan tradisi Banjar secara langsung. Saya yang berasal dari Jurusan Seni Pertunjukan, jadi semakin tertarik mempelajari alat musik tradisi Banjar,” ujarnya kepada Interaksi.co.

Mahasiswi Pendidikan Seni Pertunjukan ULM, Mutia Azzahra saat diwawancarai. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Novyandi Saputra, etnomusikolog ULM yang juga personel Akaracita, mengatakan penampilan ini selalu menjadi permintaan dalam dialog etnomusikologi yang digelar setiap tahun.

“Akaracita diminta untuk pentas. Bisa dibilang hearing session, boleh juga disebut sebagai bentuk musik etnik yang berkembang sampai hari ini,” jelas Novyandi.

Dengan berakhirnya fase hulu, FMTI Antasan Banjar bersiap menuju fase hilir, puncak acara yang berlangsung pada 29–31 Agustus mendatang di Panggung Siring Balai Kota Banjarmasin.

Novyandi mengajak warga Banjarmasin hadir dan memeriahkan festival musik tradisi terbesar sekaligus pertama di Kalimantan Selatan ini.

“Saya berharap semua orang datang untuk melihat khazanah keragaman musik etnik Kalimantan. Supaya bisa dirayakan dengan bangga, meyakini kemajuan budaya sampai sekarang masih berlangsung,” tandasnya.

Author

  • Rezaldi

    View all posts