INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Sejumlah akademisi dan aktivis membahas ulang makna intelektual organik dalam forum diskusi “Ambin Demokrasi” yang digagas Noorhalis Majid, aktivis dan Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan.
Forum dilaksanakan sekaligus mengenang Muhammad Effendy, sebagai sosok yang tidak hanya menggaungkan ideologi.
“Beliau bukti sosok yang melebur ideologi, strategi, dan taktik,” kagum Berry Nahdian Forqan.
Dalam forum, fenomena yang dirujuk ialah mengenai keberpihakan intelektual hari ini. Poinnya, para intelektual harus langsung hadir di tengah kehidupan masyarakat. Tidak cukup hanya menulis dan berbicara.
Baca juga: Manfaatkan Sampah Organik, Siswa SMP di Banjarmasin Ciptakan Deterjen Eco-Enzyme
Erich Kaunang, peneliti IRIS UGM, menilai intelektual organik lahir dari kebutuhan rill masyarakatnya. Persoalan sosial, menurutnya, kerap tersembunyi di balik situasi yang terlihat normal. Berkaca dari pengalamannya yang selama ini mempelajari dan mendampingi masyarakat adat.
Ia juga menyoroti akses pendidikan yang masih menjadi isu krusial dan belum sepenuhnya menjadi fokus pembangunan.
“Kita perlu refleksi, posisi kita hari ini di mana?” ingatnya.
Disambung dengan Calvin Nathan Wijaya, peneliti yang juga aktif dalam lembaga Save the Children, yang mengingatkan agar kaum terdidik tidak terlalu berjarak dengan masyarakat lewat teori. Ia menekankan pentingnya mendengar.
“Bisa jadi bukan kita yang mengajari, tapi kita yang belajar. Intelektual organik itu cirinya punya kemampuan mendengar yang tinggi,” katanya.
Ia juga mendorong pendekatan action research, yakni riset yang langsung berdampak dan melibatkan masyarakat sebagai subjek.
Forum juga menyoroti krisis rujukan saat ini. Posisinya, Media dan intelektual tidak lagi mendapat kepercayaan publik sebagai rujukan pengetahuan.
Dari Rumah Alam, Minggu (15/2), mengenang Effendy bagai dihadapkan pada pilihan berani menjaga keberpihakan dan integritas. Atau larut dalam kenyamanan posisi.





