INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia dilaporkan memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang menghasilkan kabut asap pekat.

Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi salah satu wilayah yang mendapat sorotan setelah sejumlah daerah dilaporkan mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada kategori berbahaya.

Berdasarkan data pemantauan yang tercantum dalam laporan, Kabupaten Barito Kuala sempat mencatat ISPU sebesar 1.302, sedangkan Kabupaten Tabalong mencapai 2.028. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas kategori berbahaya, yakni di atas 300.

Sementara itu, kualitas udara di Kota Banjarmasin dilaporkan berada pada angka 221 atau kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki masalah pernapasan.

Dampak kabut asap juga memengaruhi aktivitas pendidikan. Sejumlah otoritas pendidikan dilaporkan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah untuk mengurangi paparan polusi udara terhadap siswa.

Selain Kalimantan Selatan, sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah juga dilaporkan mengalami pencemaran udara yang sangat tinggi. Di kawasan Jekan Raya, Palangka Raya, angka ISPU disebut sempat mencapai 4.238 hingga 5.869.

Di Kalimantan Barat, wilayah Ketapang dilaporkan mengalami kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya selama periode pemantauan.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengendalian karhutla ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke wilayah permukiman dan memperburuk kualitas udara, terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung penyebaran polutan.

Sumatera Juga Terdampak, Sejumlah Daerah Lain Relatif Bersih

Pencemaran udara akibat karhutla juga dilaporkan terjadi di Sumatera. Di Stasiun Palembang Bukit Kecil, Sumatera Selatan, angka ISPU sempat mencapai 717.

Di Pekanbaru, Riau, kualitas udara dilaporkan sempat berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya sebelum membaik ke kategori sedang setelah hujan. Sementara itu, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak, disebut mencatat ISPU sebesar 449.

Berbeda dengan wilayah yang terdampak kabut asap, beberapa daerah lain dilaporkan memiliki kualitas udara dalam kategori baik. Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencatat ISPU 22, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sebesar 27, dan Kota Ternate, Maluku Utara, sebesar 33.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas udara dapat bervariasi antarwilayah, bergantung pada sumber pencemaran dan kondisi lingkungan setempat.

Kenali Kategori ISPU dan Risiko Kesehatan

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020, ISPU digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.

Kategori ISPU dibagi menjadi lima tingkat, yaitu:

  • 0-50, Baik: Kualitas udara dinilai tidak memberikan dampak negatif yang berarti bagi kesehatan.
  • 51-100, Sedang: Kualitas udara masih dapat diterima, tetapi sebagian kelompok sensitif dapat mengalami dampak.
  • 101-200, Tidak Sehat: Berpotensi merugikan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.
  • 201-300, Sangat Tidak Sehat: Risiko gangguan kesehatan meningkat sehingga aktivitas fisik berkepanjangan di luar ruangan perlu dihindari.
  • Di atas 300, Berbahaya: Kondisi berisiko menimbulkan dampak kesehatan serius bagi masyarakat.

Di tengah ancaman kabut asap, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup pintu dan jendela saat asap pekat masuk ke permukiman, serta menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel ketika harus beraktivitas di luar.

Warga juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi dari instansi terkait. Jika menemukan titik api, masyarakat dapat melaporkannya kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Upaya pengendalian karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat menjadi penting untuk mengurangi dampak asap, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah dengan tingkat pencemaran udara tinggi.

Author