INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Pasca banjir yang merendam kawasan Pangayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, kondisi lingkungan warga mulai berangsur membaik.
Genangan air perlahan surut dan seluruh posko pengungsian telah ditutup. Namun demikian, sebagian warga mengaku belum sepenuhnya bisa kembali beraktivitas normal, khususnya dalam mencari nafkah.
Banjir yang merendam permukiman warga di tiga Rukun Tetangga (RT) tersebut berlangsung hampir selama satu bulan. Hingga Rabu (21/1/26) lalu, seluruh warga terdampak telah kembali ke rumah masing-masing seiring dengan surutnya air.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Hantam Petani Cabai di Banjarbaru
Salah satu warga RT 2 RW 1, Hikmah, menyebut kondisi lingkungan sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
“Alhamdulillah sekarang sudah surut, tidak ada yang mengungsi lagi, sudah kembali ke rumah masing-masing. Posko pengungsian di RT kami juga sudah dicabut sejak hari Senin lalu,” ujarnya, Jumat (23/1/26)
Meski demikian, sisa genangan air masih ditemukan di beberapa titik, terutama di gang-gang kecil dan rumah dengan posisi rendah. Bagian dapur warga menjadi area yang paling lama tergenang.
“Di dalam gang juga masih bebanyu jalannya. Tapi rumah Alhamdulillah kering, paling yang rendah rumahnya masih bebanyu, cuma di dapurannya aja,” jelasnya.
Saat ini, warga mulai melakukan pembersihan rumah pasca banjir. Sebagian warga sudah kembali beraktivitas, meski belum sepenuhnya normal.
“Sepalih warga ada yang bersih-bersih, yang asalnya belum kawa begawi sekarang kawa sambil begawian,” katanya.
Hikmah juga menyoroti persoalan banjir yang kerap berulang setiap musim hujan. Bahkan, saat musim kemarau, kawasan tersebut justru dihadapkan pada ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kalau musim kemarau keapian, musim hujan kebanjiran. Jadi kaya apa caranya supaya tidak ada lagi kejadian,” tuturnya, berharap adanya penanganan jangka panjang, bukan sekadar darurat.
Kondisi serupa juga dirasakan warga RT 1 RW 1. Ketua RT setempat, Salasiah, memastikan seluruh warga terdampak telah kembali ke rumah meski masih terdapat sisa genangan air.
“Walaupun masih ada yang calap banyunya, tapi Alhamdulillah sudah pada bulikan semua ke rumah,” ucapnya.
Dari total 102 kepala keluarga (KK) di wilayahnya, sebanyak 35 KK sempat terdampak banjir dan beberapa di antaranya harus mengungsi.
Meski air mulai surut, Salasiah mengungkapkan sebagian warga belum bisa kembali bekerja. Mayoritas warga menggantungkan hidup dengan mencari kayu bakar di hutan, yang hingga kini masih tergenang air.
“Kami mata pencariannya ke hutan cari kayu bakar. Saat ini kan masih dalam air (di hutan), jadi masih di rumah semuanya, belum bisa begawian,” ungkapnya.
Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya bantuan peninggian rumah warga agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.
“Rumah kami ini rumah panggung, kita harap bisa ditinggikan. Biar nggak terendam terus setiap tahun, karena momennya pasti kebanjiran di sini,” harapnya.
Menurut Salasiah, posisi rumah warga yang lebih rendah dibandingkan badan jalan menjadi penyebab utama banjir rutin melanda kawasan tersebut.
“Karena rumah kami ini lebih rendah daripada jalan, jadi otomatis rumahnya kebanjiran,” tutupnya.





