INTERAKSI.CO, BanjarmasinLanjong Art Festival sudah lama tak menghadirkan panggung untuk para seniman sejak terakhir digelar pada Agustus 2017.

Event bertaraf internasional itu akhirnya bangun dari “tidur” panjangnya. Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong akan jadi pusat pagelaran seni selama sepekan penuh, 22-28 Agustus 2025.

Jika sebelumnya festival ini lebih banyak diisi kompetisi tari kontemporer, musikalisasi puisi, dan monolog, tahun ini formatnya berbeda. Akan ada eksibisi seniman, workshop seni pertunjukan, dan yang paling ditunggu, kompetisi teater se-Indonesia.

Dapur Teater Kalimantan Selatan menjadi satu dari sebelas penampil yang lolos kurasi untuk tampil di Kutai Kartanegara. Mereka melewati seleksi panjang sejak Maret 2025, bersaing dengan grup teater lain dari berbagai kota. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

“Diantaranya konsistensi grup dalam berkarya, dan juga diminta karya-karya beberapa tahun terakhir. Alhamdulillah, setelah didaftarkan bawa portofolio dan segala macamnya, terpilih menjadi perwakilan Kalimantan Selatan,” kata Bastari Bayu Setiawan saat diwawancarai langsung oleh Interaksi.co, belum lama ini.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh DAPUR TEATER KALSEL (@officialdapurteaterkalsel)

Baca juga: Ngaji Puisi Y.S. Agus Suseno: Ziarah Kata di Negeri Kesedihan

Baca juga: Burhanuddin Soebely dan Akar Budaya dalam Karya Teaternya

 

Sejak pengumuman pada 1 Juni lalu, mereka langsung bersiap. Proses dimulai dari casting, reading, hingga latihan intensif selama 1,5 bulan.

Bayu Bastari dan Muhammad Ridhoni akan beradu akting dalam pertunjukan Anak Panggung Negeri Panggung karya Ab Asmarandana, naskah wajib yang harus dibawakan semua peserta. Festival ini akan dikurasi dan dinilai langsung oleh Ab Asmarandana, seniman teater Iswadi Pratama, dan ahli teater Prof. Yudiaryani.

Bagi Bayu, tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan isi cerita agar bisa menyentuh penonton, dengan pengalaman teater khas Kalimantan Selatan yang diadaptasi ke dalam cerita.

“Dalam festival ini tantangannya untuk seluruh peserta nasional itu cuman mementaskan naskah yang sama, kemudian menginterpretasikan karya ini menjadi versi kita sendiri dengan menyentuh esensi cerita,” jelas aktor yang menjadi cast Film Pirunduk itu.

Untuk menguji kesiapan, mereka sempat mementaskan versi adaptasi singkat bertajuk BPJS untuk Hamlet di Balairung Sari Taman Budaya, pada 3 Agustus 2025 lalu.

“Sekalian minta koreksi dari teman-teman yang nonton. Kira-kira apa saja masukannya. Banyak insight baru juga untuk kita revisi dan coba lagi agar lebih siap,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan sponsor.
“Luar biasa menyambut positif, kita diberikan dukungan secara moral dan materil. Sponsor juga mendukung. Jadi, kami terfasilitasi untuk berangkat,” ungkapnya.

Bayu berharap Dapur Teater Kalimantan Selatan bisa menyerap banyak pengalaman, baik dari kompetisi maupun workshop seniman kelas dunia di Lanjong Art Festival 2025.

“Harapannya kami bisa benar-benar menyerap ilmu, sehingga ketika balik bisa menularkan ilmu untuk teater kalsel dan kami juga tidak menutup keinginan untuk menjadi penyaji terbaik dan pulang membawa kemenangan,” tandasnya.

Author

  • Rezaldi

    View all posts