INTERAKSI.CO, Batulicin – Lagu “Cerita yang Lalu” karya musisi sekaligus jurnalis asal Kalimantan Selatan, Puja Mandela, mendapat apresiasi dari kalangan pendidik.
Salah satunya datang dari Arif Rachman, guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Karang Bintang, Tanah Bumbu, yang menilai lagu tersebut memiliki kekuatan literer dan layak dijadikan bahan pembelajaran di kelas sastra.
“Saat pertama kali mendengarkan lagu ‘Cerita yang Lalu’, saya merasakan nuansa yang tenang sekaligus menyentuh. Lagu ini seperti mengajak pendengar untuk merenungi masa lalu yang tak bisa diulang,” ujar Arif, Kamis (30/10).
Menurut Arif, jika dilihat dari perspektif sastra, lirik lagu ini tergolong balada kontemporer bernuansa puisi. Ia menjelaskan, struktur dan diksi dalam lagu tersebut memuat unsur cerita dan metafora yang kuat, menjadikannya bukan sekadar lagu populer, melainkan juga karya sastra musikal.
“Lirik-liriknya bisa dikategorikan sebagai puisi lirik, karena mengekspresikan perasaan pribadi penulisnya secara mendalam,” tambahnya.
Baca juga: Puja Mandela Rilis “Cerita yang Lalu”: Balada Reflektif di Tengah Dunia yang Terluka
Salah satu bagian yang paling menarik bagi Arif adalah penggalan lirik “Kau dan aku cerita yang lalu, api yang menyala menjadi debu.”
Menurutnya, kalimat itu sarat makna dan mengandung simbolisme yang kuat.
“Kalimat ini menggambarkan perasaan dan pengalaman masa lalu yang suatu ketika lenyap tanpa sisa,” jelasnya.
Lebih jauh, Arif menafsirkan lagu ini sebagai kisah tentang dua orang yang pernah berbagi masa lalu, kemudian dipertemukan kembali setelah perpisahan, tetapi pertemuan itu tidak membawa kebahagiaan.
Selain mengapresiasi liriknya, Arif juga menilai Puja Mandela sebagai sosok yang unik karena mampu memadukan ketajaman seorang jurnalis dengan kepekaan musikal seorang musisi.
“Dengan latar belakang jurnalis, ia punya kepekaan dalam membaca realitas dan simbol-simbol kehidupan. Itu yang membuat lirik-liriknya kuat secara makna,” ujarnya.
Arif berencana menjadikan lagu “Cerita yang Lalu” sebagai materi pembelajaran sastra puisi di kelasnya. Ia berharap siswa dapat belajar bahwa puisi tidak hanya hadir dalam bentuk teks, tetapi juga bisa hidup dan dirasakan melalui musik.
Sementara itu, Puja Mandela sebagai penulis lagu menilai tafsir bebas dari pendengar merupakan bagian dari keindahan karya seni.
“Ada yang menafsirkan ‘kau’ sebagai seseorang, tapi ada juga yang menganggapnya sebagai kenangan di masa lalu. Itu hak setiap orang. Beberapa teman yang sudah mendengarkan lagu ini memang punya interpretasinya masing-masing,” katanya.





