INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Seorang pasien berusia 20 tahun didiagnosis mengalami demensia dini, kondisi yang umumnya identik dengan usia lanjut. Kisahnya menjadi pengingat bahwa gangguan kognitif tidak selalu mengenal usia.

Pasien yang identitasnya dirahasiakan itu mengaku awalnya tidak pernah membayangkan dirinya mengidap demensia. Ia menjalani kehidupan seperti anak muda pada umumnya, hingga perlahan menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Saya baru berusia 20 tahun dan baru-baru ini didiagnosis demensia dini. Rasanya masih tidak nyata saat mengetik ini,” tuturnya, dikutip dari UNILAD.

Baca juga: Dicoret dari PBI BPJS, Ajat Penjual Es Keliling Terpaksa Hentikan Cuci Darah

Sebelum diagnosis ditegakkan, pasien rutin menjalani tes memori dan berkonsultasi dengan ahli neurologi. Ia mulai merasakan perubahan kecil yang awalnya dianggap wajar, seperti kelelahan atau stres.

Namun, gejala tersebut muncul semakin sering.

Ia kerap lupa percakapan yang baru saja terjadi, membaca ulang pesan tanpa ingat pernah mengirimnya, hingga masuk ke sebuah ruangan tanpa tahu tujuan awalnya.

“Kejadian seperti itu terjadi lebih sering dari yang terasa normal,” ungkapnya.

Kelalaian kecil itu perlahan berkembang menjadi rasa bingung dan frustrasi. Aktivitas sehari-hari pun mulai terganggu, bahkan berdampak pada orang-orang di sekitarnya.

“Sampai di satu titik, saya sadar ini bukan sekadar kurang tidur atau stres. Saat itulah saya tahu ada sesuatu yang salah,” katanya.

Kesadaran tersebut mendorongnya mencari bantuan medis lebih lanjut, hingga akhirnya ia menerima diagnosis demensia dini.

Demensia Dini Masih Menyimpan Banyak Misteri

Demensia dini tergolong langka, terutama pada usia sangat muda. Hingga kini, penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami. Para ahli menyebutkan bahwa faktor genetik, gangguan neurologis tertentu, hingga kondisi medis spesifik dapat berperan, namun masih membutuhkan penelitian lebih mendalam.

Meski jarang, demensia dini dapat terjadi pada siapa saja dan berdampak signifikan pada fungsi kognitif, emosi, serta kualitas hidup.

Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:

  • Mudah lupa, termasuk hal-hal baru saja terjadi

  • Kesulitan berbicara atau menemukan kata yang tepat

  • Sulit mengungkapkan pikiran dan memahami percakapan

Kisah pasien muda ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan fungsi ingatan dan kognitif, terutama bila terjadi terus-menerus.

Deteksi dini dan konsultasi medis dinilai krusial agar penderita bisa mendapatkan penanganan lebih cepat serta dukungan psikologis yang memadai.

Author