Arif sekali kebudayaan Banjar dengan ungkapan ini. Bahwa setiap orang pada dasarnya pintar. Tidak ada satu pun yang bodoh atau pun dungu. Hanya saja, kepintaran itu bertingkat-tingkat. Seperti halnya lapisan langit, “di atas langit ada langit”. Di atas seorang yang pintar, ada lagi yang lebih pintar. Pun terhadap yang dianggap paling pintar, yakinlah masih ada yang lebih pintar.
Kalau dalam kehidupan ini ada yang terpedaya dengan seseorang, bukan disebabkan karena dia bodoh, boleh jadi karena ada orang yang kepintarannya lebih tinggi, sehingga mampu memperdaya. Terhadap tindakan yang memperdaya tersebut, kebudayaan Banjar menyebut “dipintarinya”.
Tidak dapat ditolak, dalam hidup ini sering kali berlaku hierarki dominasi. Yang besar memakan yang kecil, yang kuat memangsa yang lemah. Dalam keseharian, praktiknya bisa dalam wujud “bullying” atau intimidasi. Semuanya berproses laksana seleksi alam. Saling kalah mengalahkan, bergantung pada level mana kepintaran ditentukan. Dalam teori hierarki dominasi, penindasan akan terus terjadi, seiring pertarungan antar level kepintaran, dan yang paling rendah kepintarannya, selalu menjadi korban.
Dipintarinya, adalah satu bentuk kesadaran tentang diri yang kalah atau mengalah. Terkadang, tahu saja ada orang yang berlaku “memintari”, dengan tujuan untuk mendominasi. Dan kesadaran itu menuntun untuk membiarkan hal tersebut terjadi, sebab “memintari” belum tentu berujung pada kemuliaan. Bukankah ada banyak bukti, akibat suka “memintari”, justru berlaku karma yang menimpa pada dirinya sendiri.
Pintar adalah anugerah dan karunia Tuhan, mestinya digunakan semaksimal mungkin untuk menolong, membantu, mengayomi, melindungi atau minimal memberikan pencerahan, agar “pintar” tersebut bisa menjadi penuntun jalan menuju kebenaran.
Sekarang ini, nampaknya hierarki dominasi sedang mabuk kepayang. Entah berupa penyimpangan kekuasaan, manipulasi kebijakan yang pongah, keserakahan atas ekspolitasi alam, ketimpangan dan ketidakadilan pembagian pendapatan, yang kesemuannya itu mestinya tidak harus terjadi, bila “pintar” digunakan secara tepat dan adil untuk membangun kesejahteraan bersama.
Ungkapan ini ingin memberitahu, pada dasarnya semua kebobrokan yang terjadi sekarang ini sangatlah dipahami, dimengerti, dan disadari, bahwa sesuatu sedang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Disebabkan banyaknya yang merasa pintar, kapipintaran, katuju memintari, dan karena semua pada akhirnya akan menuai akibatnya, biarlah dipintarinya.
Oleh: Noorhalis Majid





