INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Meski sama-sama berada di Pulau Kalimantan, perjalanan dari Banjarmasin ke Pontianak tetap harus keluar pulau karena tidak ada penerbangan langsung.

Hal itu disampaikan Ketua FKUB Kalimantan Barat, Profesor Ibrahim, saat menyambut rombongan FKUB Kalimantan Selatan di Aula Pemprov Kalbar, Kamis (21/8/2025).

Rombongan FKUB Kalsel dipimpin Ilham Masykuri Hamdie, didampingi Kepala Kesbangpol Heriansyah, sejumlah staf dari Kesbangpol dan Biro Kesra, serta staf Kanwil Depag Kalsel.

Ilham menjelaskan alasan pihaknya memilih Kalimantan Barat sebagai tujuan studi karena provinsi ini dikenal sebagai salah satu daerah paling toleran di Indonesia. Kalbar berada di peringkat ke-12, sementara Kota Singkawang tiga tahun berturut-turut menyandang predikat kota paling toleran. Tahun ini posisinya turun ke peringkat dua, di bawah Salatiga.

“Pencapaian itu luar biasa. Tidak mudah diraih tanpa upaya bersama untuk mewujudkan daerah yang inklusif bagi semua golongan,” ujar Ilham.

Baca juga: Babinsa Kusan Hulu Dampingi Panen Padi Demplot Bersama BPP

Literasi Kerukunan

Profesor Ibrahim menambahkan FKUB Kalbar aktif mempublikasikan kegiatan dan informasi kerukunan melalui website serta media sosial. Menurutnya, percakapan tentang kerukunan tidak cukup berhenti di ruangan, tetapi harus disebarkan ke publik sebagai bagian dari literasi kerukunan.

“Bagi kami, kerukunan harus dipublikasikan agar menjadi literasi bersama. Karena itu, kami manfaatkan media sosial, website, hingga buku yang ditulis secara kolektif anggota FKUB,” jelasnya.

Peta Potensi Konflik

Kepala Kesbangpol Kalbar, Manto, turut memaparkan strategi pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan. Salah satunya dengan membuat peta potensi konflik agar bisa diantisipasi sejak dini.

“Kubu Raya, misalnya, sudah terpetakan potensi konfliknya. Sebelum Pilkada pernah ada gesekan, tetapi lewat paguyuban etnis dan agama konflik bisa cepat diselesaikan,” katanya.

Sejak masa kolonial Kalbar mewarisi dikotomi identitas: Islam identik dengan Melayu, Dayak dengan Kristen. Meski begitu, peran etnis justru memperkaya dinamika sosial daerah.

“Kami tidak memiliki perda khusus kerukunan, hanya pergub tentang FKUB. Sejauh ini kearifan lokal sudah cukup mengikat kehidupan yang beragam,” tambahnya.

Program Unggulan FKUB

Manto menegaskan sejumlah program unggulan FKUB Kalbar antara lain penguatan literasi kerukunan, dialog lintas agama, forum generasi muda lintas iman, hingga penerbitan buku bersama. Semua kegiatan diperkuat dengan media daring agar narasi positif bisa mengimbangi narasi negatif.

“Kerukunan dan kebersamaan dibangun di semua lini. Kolaborasi dengan FKUB kabupaten/kota juga terus dijalankan, bahkan melalui diskusi rutin via Zoom,” kata Ibrahim menambahkan.

Dalam sesi tanya jawab, Wakil Ketua FKUB Kalsel Dr. Mirhan menanyakan soal pendirian rumah ibadah dan aturan syarat 90/60 sesuai PBM. Profesor Ibrahim menegaskan bahwa kearifan lokal lebih diutamakan.

“Jika masyarakat menerima dengan lapang dada, rumah ibadah bisa dibangun meski syarat administratif belum terpenuhi. Bukankah tujuan rumah ibadah untuk kebaikan? Kenapa harus ada larangan atau pertentangan?” ujarnya.

Usai berdialog di Pontianak, rombongan FKUB Kalsel melanjutkan perjalanan ke Kota Singkawang. Kota ini dikenal sebagai ikon toleransi di Indonesia, meski tahun ini menempati posisi kedua setelah Salatiga.

Perjalanan darat ditempuh sekitar 4–5 jam karena masih banyak pembangunan jembatan. Meski begitu, rombongan tetap antusias karena ingin menyaksikan langsung praktik kerukunan yang menjadikan Singkawang sebagai kota paling toleran.

Author