INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Sejak Kalimantan Selatan berdiri, belum pernah ada festival musik tradisi sebesar ini.

Malam pembukaan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Antasan Banjar jadi sejarah baru ketika musik tradisi tak lagi hanya jadi pelengkap, melainkan tampil mandiri di panggung nasional.

Lantunan Sinoman Hadrah Al Ihsan Banyiur, dilanjutkan tari Baksa Kembang oleh Sanggar Ading Bastari menyambut pembukaan FMTI Antasan Banjar. Warga Banjarmasin terlihat asik duduk sambil mengabadikan melalui handphone pemusik tradisi yang tampil di panggung Siring Balaikota.

Mereka yang tampil malam itu adalah JEF Banjar berkolaborasi dengan Pemadihin Ferdi Irawan, Nuansa Etnik Ansamble, Sanggar Balahindang dan Bellacoustic Palangka Raya.

Penampilan JEF Banjar berkolaborasi dengan Ferdi Irawan. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Baca juga: Workshop MTN AsahBakat: Merwan Adhi Buka Wawasan Tata Suara Musik Tradisi

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Syaifullah Agam, mengatakan program FMTI ini adalah bagian dari upaya membangun ekosistem musik tradisi secara merata.

“Kita tidak mau pengembangan (musik tradisi) terfokus di Jawa dan Sumatra. Kita mencoba masuk ke wilayah Timur. Salah satu yang menarik adalah Kalimantan. Festival Musik Tradisi Indonesia ini yang kami bawa,” kata Syaifullah saat ditemui sejumlah wartawan.

Tahun ini, FMTI hadir dengan wajah baru. Tema Ethnogroove sengaja dipilih agar musik tradisi lebih kekinian dan bisa masuk ke telinga anak muda.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Syaifullah Agam saat diwawancarai. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Baca juga: Dialog Etnomusikologi Kupas Eksplorasi Bunyi Sungai di Kalsel

Direktur FMTI Kalimantan Selatan, Novyandi Saputra, menyebut pagelaran ini akan berlangsung selama tiga hari dengan ragam pertunjukan musik tradisi dari berbagai daerah di Kalimantan.

“Lebih dari 20 kelompok musik tradisional inovatif dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah akan unjuk kebolehan,” ungkapnya.

Menurutnya, ini bukan sekadar festival, tapi tonggak sejarah.
“Perlu diketahui sepanjang Kalimantan Selatan berdiri belum pernah ada festival musik tradisi. Jadi, ini momentum pertama kalinya tradisi bisa berdiri sendiri,” tambahnya.

Sekretaris Kota Banjarmasin, Ikhsan Budiman turut mengapresiasi Kementerian Kebudayaan dan Komunitas Akaracita dalam menghadirkan pagelaran musik tradisi di Kota Seribu Sungai.

Menurutnya, Kalimantan Selatan memiliki keragaman musik tradisi yang sudah lama ada. Ia mencontohkan gamalan banjar, panting, madihin dan lagu-lagu banjar.

“Sebagaimana kita ketahui, Kalimantan Selatan banyak musik tradisinya. Mudah-mudahan nanti dari Kementerian Kebudayaan dapat membawa pemusik tradisi Kalimantan ke nasional,” harapnya.

Author

  • Rezaldi

    View all posts