INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru memastikan harga dan ketersediaan bahan pokok (bapok) di pasaran dalam kondisi aman dan terkendali. Meski sempat terjadi kenaikan pada sejumlah komoditas dalam beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Banjarbaru, Rosida Ridha, mengatakan, kestabilan harga itu berdasarkan hasil pemantauan langsung harga dan stok kebutuhan pokok di lapangan.

“Bisa dibilang stabil ya untuk harga dan juga stoknya cukup. Kalau di data kami (per 15/1), itu cukup,” ujar Rosida Senin (19/1).

Ia mengakui, sebelumnya memang sempat terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas menjelang Pengajian 5 Rajab dan libur Tahun Baru, khususnya pada daging ayam dan telur. Namun, kondisi tersebut kini telah kembali normal.

“Ada beberapa kejadian sebelum 5 Rajab dan antara Tahun Baru itu ada kenaikan harga seperti komoditas daging ayam dan telur, tapi untuk sekarang sudah mulai stabil. Artinya untuk Banjarbaru aman,” jelasnya.

Baca juga: Kubah Sekumpul Masih Ditutup, Ahli Waris Ungkap Alasannya

Menurut Rosida, jika pun terdapat kenaikan harga, skalanya masih tergolong ringan dan tidak terjadi secara merata di seluruh pedagang.

“Walaupun ada kenaikan juga tidak terlalu signifikan. Itu mungkin karena ada perbedaan harga dari beberapa pedagang saja, tapi tidak semua langsung naik,” ucapnya.

Untuk komoditas cabai, Rosida menyebut harga masih berada dalam batas wajar. Cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit merah, rawit hijau, dan rawit tiung berada di harga sekitar Rp80 ribu per kilogram.

“Kalau harga cabai masih wajar saja di data kami. Kemarin itu naik mungkin karena pengaruh sisa momentum 5 Rajab, tapi untuk sekarang sudah cukup stabil,” imbuhnya.

Selain itu, harga komoditas protein hewani juga terpantau stabil, di antaranya telur ayam ras sekitar Rp30 hingga Rp31 ribu per kilogram dan daging ayam ras Rp35 ribu per kilogram. Untuk sayur-mayur, bawang merah dan putih pun relatif stabil klaimnya.

Untuk itu, Rosida mengingatkan masyarakat agar tidak terpancing isu krisis pangan yang dapat memicu kepanikan dan aksi penimbunan.

“Kalau mendengar isu krisis, jangan panik. Jangan sampai ada penyetokan, baik oleh pedagang maupun masyarakat. Mudah-mudahan sistem seperti itu tidak terjadi,” tegasnya.

Sebab menurutnya, aksi penimbunan justru berpotensi menyebabkan kelangkaan barang di pasaran dan memicu kenaikan harga.

“Kalau stok ditahan, otomatis barang berkurang dan bisa memicu inflasi. Tapi itu masih sebatas prediksi terkait krisis global dan mudah-mudahan kita tidak terdampak,” ungkapnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Disdagperin Kota Banjarbaru juga mendorong penguatan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga dengan memanfaatkan lahan pekarangan.

“Kemandirian pangan harus terus digalakkan. Sebaiknya masyarakat bisa memanfaatkan lahan pekarangan rumah,” pungkas Rosida.

Author