INTERAKSI.CO, Jakarta – Upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Asia diperkuat lewat pertemuan bilateral antara Menteri PPPA RI, Arifah Fauzi, dan Menteri Sarawak, Dato Sri Hajah Fatimah Abdullah, Sabtu (28/6/2025).

Pertemuan ini mendorong kolaborasi lintas negara dalam isu kesejahteraan perempuan dan anak.

Pertemuan yang berlangsung hangat di Jakarta ini bukan hanya menjadi ajang diplomasi formal, tetapi juga membuka peluang kolaborasi nyata antarwilayah dalam menghadapi isu-isu mendesak perempuan dan anak lintas negara.

Baca juga: Presiden Prabowo Dorong Deregulasi dan Perkuat Posisi Tawar RI dalam Perundingan Tarif dengan AS

“Besar harapan kami pertemuan ini menjadi inspirasi timbal balik atas praktik baik antara Indonesia dan Sarawak. Kami terbuka untuk rencana aksi konkret demi kemajuan bersama,” ujar Menteri Arifah.

KemenPPPA RI sendiri telah menginisiasi sejumlah terobosan, seperti Ruang Bersama Indonesia (RBI) sebagai wadah layanan terpadu, penguatan Call Center SAPA 129, serta pengembangan basis data Satu Data Perempuan dan Anak di tingkat desa, yang semuanya dirancang untuk memperkuat layanan berbasis bukti di akar rumput.

“Kami ingin membangun episentrum pembangunan dari desa, agar penanganan masalah perempuan dan anak bisa lebih langsung dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Langkah Indonesia ini mendapatkan sambutan hangat dari pihak Sarawak. Menteri Dato Sri Hajah Fatimah Abdullah menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan dan inisiatif Indonesia, seraya menekankan komitmen Malaysia, khususnya Sarawak, dalam menjamin akses pendidikan untuk semua anak—termasuk dari keluarga pekerja asing yang hidup di ladang-ladang.

“Kami juga berkomitmen memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil dan komunitas migran,” ujarnya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi kolaborasi jangka panjang dalam menghadirkan kebijakan, program, dan layanan yang tidak hanya responsif, tetapi juga inklusif dan kontekstual terhadap budaya dan kondisi wilayah masing-masing.

Momen ini menandai langkah penting menuju solidaritas regional untuk memastikan bahwa perempuan dan anak di Asia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan berdaya.

Author