INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Isu kesehatan mental dikemas dengan cara kreatif dan dekat dengan anak muda dalam kegiatan diseminasi sekaligus implementasi program BASAkalimantan Wiki, Jumat (30/01/2026), di kawasan Lapangan Murdjani dan Mingguraya, Banjarbaru.

Aksi ini menjadi bukti bahwa kampanye kesehatan mental tidak harus kaku, tetapi bisa dilakukan dengan pendekatan komunitas dan budaya populer.

Sejumlah anggota komunitas cosplay tampil mencuri perhatian publik dengan membawa berbagai media kampanye bertuliskan pesan-pesan empatik. Di antaranya, “Kamu Tetap Berharga Walau Lagi Gak Produktif”, “Tak Mengapa Merasa Lelah, Asal Jangan Menyerah”, hingga “Yang Bikin Mental Capek Bukan Kejadiannya, Tapi Isi Kepala Kita Sendiri”.

Pesan-pesan tersebut sukses menarik perhatian pengunjung dan memantik diskusi ringan seputar kesehatan mental.

Baca juga: Layar Tancap “Basinggah Satumat” Kembali Digelar di Tanah Laut

Tak berhenti pada kampanye visual, implementasi isu kesehatan mental juga diwujudkan secara nyata melalui penyediaan enam Bilik Bakisah, ruang konseling terbuka yang ditujukan bagi pemuda untuk berbagi cerita dan keluh kesah.

Konsep ini menekankan pentingnya ruang aman bagi generasi muda untuk berbicara tanpa stigma.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Wikithon Partisipasi Publik (WPP #4) isu “Kesehatan Mental” yang digelar BASAkalimantan Wiki pada November–Desember 2025.

Program tersebut menghimpun gagasan pemuda terkait penanganan isu kesehatan mental, yang kemudian didalami melalui dialog bersama pelajar, mahasiswa, guru, akademisi, hingga instansi pemerintah terkait.

Hasilnya, lahir policy brief dengan tiga rekomendasi utama. Pertama, penguatan kembali hotline layanan kesehatan mental di DP3APMP2KB Kota Banjarbaru. Kedua, pelatihan konselor sebaya untuk memperkuat SDM muda. Ketiga, kampanye kesehatan mental secara digital dan offline yang digerakkan langsung oleh pemuda dan komunitas.

Koordinator Program BASAkalimantan Wiki, Hudan Nur, menyebut kegiatan ini sebagai bukti keberhasilan partisipasi publik pemuda dalam isu kesehatan mental.

“Malam ini pemuda tidak hanya berdiskusi, tetapi langsung melakukan diseminasi dan implementasi,” ujarnya.

DP3APMP2KB Kota Banjarbaru pun mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurut Hj. Eviyana, kehadiran Bilik Bakisah sangat membantu.

“Dengan bercerita saja, persoalan bisa berkurang hingga 70 persen,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan policy brief oleh perwakilan pemuda lintas komunitas, menandai komitmen bersama untuk menjadikan kesehatan mental sebagai isu bersama, bukan lagi tabu.

Author