INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Di balik ledakan grunge yang lahir dari Nevermind, ada satu jejak halus yang sering terlewat ketika orang membicarakan Nirvana: bayang-bayang John Lennon. Album yang identik dengan kemarahan, distorsi, dan jiwa punk itu ternyata banyak dipahat dengan teknik vokal yang dipopulerkan oleh seorang Beatle yang juga dikenal sebagai pemberontak.
Kisahnya bermula di studio saat Butch Vig memproduseri Nevermind. Vig datang dengan banyak referensi tentang bagaimana vokal rock bisa terdengar lebih dalam dan lebih manusiawi, dan salah satu panutannya adalah Lennon.
Dalam banyak rekaman The Beatles, Lennon sering memakai teknik double-tracked vocals, mengulang rekamannya secara penuh, lalu menumpuk dua suara itu agar vokalnya terdengar lebih tebal, lebih intim, dan sedikit melayang. Teknik ini menyembunyikan ketidaksempurnaan, sekaligus memberi nuansa rapuh yang khas.
Kurt Cobain sebenarnya tidak menyukai pengulangan take. Baginya, itu terasa terlalu pop dan terlalu rapi, sesuatu yang bertentangan dengan semangat punk yang sejak awal ia bawa. Tapi Kurt tumbuh dengan Beatles, dan “Lennon adalah favoritku” bukan sekadar kutipan—itu pengakuan yang memengaruhi banyak keputusan kecil dalam proses kreatifnya. Ketika Vig menyebut bahwa Lennon melakukan hal yang sama, Kurt berubah pikiran. Dari sinilah karakter vokal Nevermind secara pelan mulai mengalami transformasi.
Baca juga: 85 Tahun John Lennon: Sang Pemimpi yang Mengubah Musik Dunia
Hasilnya bisa terdengar di hampir seluruh album. Vokal Kurt pada Nevermind tidak lagi berdiri sendirian; ia seperti disertai bayangannya sendiri. Dua suara itu berjalan berdampingan—kadang saling menegaskan, kadang saling menabrak sedikit, menciptakan kesan bahwa ada dua Kurt yang bernyanyi sekaligus: satu yang marah, satu yang tersakiti; satu yang ingin berteriak, satu yang seolah sedang bergumam pada dirinya sendiri. Efek itu memberi kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam musik rock sekeras itu.
Jika lagu seperti “Smells Like Teen Spirit” terdengar meledak dari dalam, itu bukan hanya karena gitar yang membara, tetapi karena dua lapisan vokal Kurt yang memantulkan energi satu sama lain.
Dalam “In Bloom”, nuansa melodinya menjadi lebih bulat dan mengambang. Pada “Lithium”, pengulangan suara itu membuat mantra “I’m not gonna crack” terasa seperti dorongan batin yang Kurt ulangi kepada dirinya sendiri. Dan ketika ia menyanyikan “Come As You Are,” tumpukan dua vokal itu membuat nadanya terdengar lembut, namun sekaligus gelap—seolah ia sedang berbicara dari dua sisi yang berbeda.
Tidak semua lagu diperlakukan sama. “Polly” misalnya, dibiarkan tetap ringan dan intim, dengan double-tracking yang hampir tak terdengar. Sementara “Something in the Way” justru ditinggalkan tanpa sentuhan itu sama sekali, karena Kurt ingin mempertahankan kerapuhannya dalam satu suara mentah. Tapi pada lagu-lagu lain, teknik ala Lennon itu diam-diam menjadi tulang punggung nuansa vokal Nevermind.
Di sinilah ironi yang indah itu muncul. Album yang sering disimbolkan sebagai perlawanan terhadap budaya pop ternyata mendapat kekuatannya dari trik pop paling klasik.
Lennon mungkin tidak pernah membayangkan bahwa teknik vokalnya akan hidup kembali dalam suara seorang anak grunge dari Seattle. Tapi Nevermind membuktikan bahwa pengaruh musisi besar tidak selalu muncul dalam bentuk yang mencolok. Kadang, ia hadir sebagai bisikan: dua suara yang berjalan bersamaan, menatap dunia dari dua arah, namun tetap satu.
Dengan begitu, Nevermind bukan hanya album yang mengubah arah musik rock, tetapi juga bukti bahwa jejak Lennon mampu melintasi generasi, menjangkau seorang anak punk bernama Kurt Cobain, dan mengubah caranya bernyanyi selamanya.





