INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Di tengah arus musik populer saat ini, lagu pop Banjar masih berjuang mencari ruangnya sendiri. Bicara ruang, tidak hanya tentang selera pasar dan distribusi, tapi juga ekosistem yang mendukung.

Musisi asal Banjarmasin, Khairiadi Asa, merasakan tantangan tersendiri untuk mempopulerkan lagu daerah yang penyebabnya diuraikan secara lebih mendalam oleh Puja Mandela dan Sumasno Hadi.

Selama lima tahun terakhir, ia telah menciptakan puluhan lagu, tapi hanya sebagian yang benar-benar rampung dan dipublikasikan.

“Dari 76 lagu yang saya buat, baru 20-an yang benar-benar bisa saya garap,” kata Khairiadi.

Bagi Khairiadi, lagu yang ia ciptakan mesti memiliki cerita. Dalam tiap karya musiknya, dia gemar untuk mengangkat kearifan lokal. Salah satu karyanya yaitu “Nasi Kuning”. Kemudian ada “Pantun Urang Banjar”, yang lirik lagunya menggunakan beraneka pantun–ciptaannya dan sebagian dari lirik ampat si ampat lima.

Di usia yang tidak lagi muda, Khairiadi tetap menekuni hobinya ini. Dia mengaku musik sudah menjadi bagian dari dirinya. Tanpa intensi apapun, hanya menghasilkan karya murni dari hatinya.

“Tujuan saya bikin lagu untuk berkarya saja,” tegasnya.

Baca juga: Sumasno Hadi Membaca Cerita yang Lalu

Baca juga: Sambut 2026, Khairiadi Asa Rilis Dua Lagu Bertema Budaya Banjar

Jurnalis musik Puja Mandela menilai pilihan Khairiadi justru menjadi kekuatan. Menurutnya, lagu-lagu Khairiadi terdengar jujur dan mudah dinikmati.

“Kalau saya bilang, lagu beliau ini termasuk yang tidak berisiko dalam pop. Soal nasional, itu jangan jadi beban dulu. Fokus perkuat ekosistem musik kita di sini,” kata jurnalis yang juga musisi itu.

Dia menilai obsesi untuk menembus pasar nasional kerap membuat musisi melupakan fokusnya saat bermusik.

Puja Mandela juga turut menyoroti lemahnya budaya apresiasi dan distribusi musik daerah. Ia menilai karya musisi Banjar seperti karyanya Khairiadi tersebut perlu dihadirkan diberbagai platform.

“Distribusi itu penting. Paling tidak bisa masuk Spotify dan platform musik streaming lainnya. Bukan hanya YouTube,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Sumasno Hadi, akademisi dan pemerhati musik. Ia menilai lagu Banjar masih berada di persimpangan antara identitas dan pasar. Perdebatan tentang musik daerah ini selalu sama, dilema memilih menonjolkan musikalitasnya atau memerhatikan lirik Banjarnya.

“Saya rasa Khairiadi lebih memilih pengalaman, hati, dan rasa dalam aktivitas musiknya,” katanya.

Menurut Sumasno, mengangkat kearifan lokal memang tidak mudah, tetapi tetap relevan untuk diperjuangkan.

“Keinginan go nasional itu masih abu-abu, belum ada rumusnya. Jadi fokus bermusik saja, sambil memperkuat ekosistem dan kultur apresiasi di sini,” ujarnya.

Sebagai pengingat, Khairiadi Asa menggarap kegiatan diskusi musik dalam rangka rilis karya lagu pop banjarnya, Sabtu (10/1), yang bertempat di Gedung Batas Kota, Banjarmasin.

Kegiatan juga dihadiri sejumlah pegiat, penikmat musik dan kolektor rilisan fisik di Banjarmasin.

Editor: Zulfikar

Author