INTERAKSI.CO, Pelaihari – Program layar tancap keliling “Basinggah Satumat” kembali memulai perjalanannya di tahun 2026 dengan menyambangi Jalan Pahlawan, Desa Kurau, Kabupaten Tanah Laut pada Sabtu (17/1/2026).
Mengusung tema besar “Banua Lawas”, pelaksanaan volume ke-19 ini tidak hanya menyuguhkan tontonan film lokal, tetapi juga menghadirkan aksi sosial berupa cek kesehatan gratis dan penyaluran donasi bagi warga terdampak banjir.
NKRB House selaku penyelenggara berkolaborasi dengan Bilik Berbagi untuk memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi lansia serta menyalurkan 50 paket bantuan yang mencakup makanan dan obat-obatan.
Program yang telah berjalan selama tiga tahun ini memang dirancang untuk menjangkau kampung-kampung di Kalimantan Selatan yang memiliki keterbatasan akses terhadap ruang menonton film, sekaligus membangun keterikatan sosial dengan masyarakat setempat.
Baca juga: Kopdar Jadi Ruang Temu, Cerita Berdirinya Klub CB 150 X Chapter Banjarmasin
Baca juga: FIlm Agak Laen: Menyala Pantiku! Salip Film Pertama dan Dekati Rekor Terlaris
Sebanyak tiga film pendek karya sineas lokal diputar dalam kegiatan ini, yakni Lamak karya Muhammad Jaya, Takutan Basunat karya Syarwani Muhammad, dan Melaboeh disutradarai oleh Noor Asiyah.
Film-film tersebut dipilih secara khusus karena dinilai memiliki kedekatan dengan realitas dan keseharian masyarakat di Desa Kurau sehingga penonton merasa terhubung dengan cerita yang ditampilkan.
Kehadiran program ini disambut antusias oleh warga setempat yang masih berupaya bangkit pascabencana banjir.
Salah seorang warga Desa Kurau, Duan menyatakan bahwa perpaduan hiburan dan bantuan kesehatan sangat membantu warga.
“Perasaan kami sangat senang bisa berkumpul bersama masyarakat. Dengan adanya cek kesehatan gratis, donasi, dan layar tancap ini, alhamdulillah sangat membantu warga yang terdampak banjir,” ujarnya.
Tema “Banua Lawas” yang diangkat pada tahun ini merupakan refleksi mendalam atas pergeseran budaya masyarakat Banjar, terutama terkait sungai yang kini semakin terpinggirkan akibat perubahan lanskap.
Melalui pemutaran film di desa-desa, Basinggah Satumat berupaya membuka diskusi kritis mengenai keberlanjutan identitas dan ruang hidup masyarakat di tengah perubahan sosial.





