INTERAKSI.CO, Brussels – Sejumlah survei opini publik di beberapa negara Eropa menunjukkan mayoritas masyarakat menolak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Hasil jajak pendapat yang dirilis pada Jumat (6/3/2026) menunjukkan warga di Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris cenderung menolak intervensi militer serta mendukung sikap hati-hati atau netral dari pemerintah masing-masing.

Penolakan kuat di Spanyol

Di Spanyol, survei cepat yang dilakukan lembaga riset 40dB untuk media El Pais dan Cadena SER menunjukkan sekitar 68 persen responden menolak serangan AS-Israel terhadap Iran.

Survei tersebut juga menemukan bahwa 57 persen responden mendukung keputusan pemerintah Spanyol untuk tidak memberikan dukungan militer kepada AS dan Israel. Sementara itu, 53 persen responden menilai AS seharusnya tidak diizinkan menggunakan pangkalan militer di Spanyol untuk operasi dalam konflik tersebut.

Sekitar 42 persen responden menyatakan setuju dengan cara Perdana Menteri Pedro Sánchez menangani krisis tersebut. Hampir 80 persen responden juga mengaku mengikuti perkembangan konflik dengan cermat dan merasa khawatir terhadap situasi yang berkembang.

Tren serupa di Italia

Di Italia, hasil survei perusahaan riset YouTrend untuk saluran televisi Sky TG24 menunjukkan 56 persen responden menentang intervensi militer AS-Israel terhadap Iran.

Meski mayoritas pemilih sayap kanan-tengah mendukung langkah militer tersebut (57 persen), penolakan kuat datang dari pemilih sayap kiri-tengah yang mencapai hampir 80 persen.

Sekitar 48 persen responden menilai pemerintah Italia seharusnya tetap netral dan berperan sebagai mediator, sementara 29 persen lainnya berpendapat pemerintah perlu mengecam serangan tersebut serta menyerukan gencatan senjata.

Kekhawatiran meningkat di Jerman

Di Jerman, survei yang dipublikasikan oleh lembaga penyiaran publik ARD menunjukkan 58 persen responden menilai perang yang dilancarkan AS-Israel terhadap Iran tidak dapat dibenarkan.

Sebanyak 75 persen responden menyatakan khawatir konflik tersebut dapat meluas ke negara lain. Survei yang sama juga mencatat tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat turun menjadi 15 persen, level terendah dalam dua dekade terakhir.

Selain itu, hanya 17 persen responden yang menganggap Israel sebagai mitra yang dapat diandalkan. Sekitar 85 persen responden berpendapat bahwa politik global semakin didominasi oleh sistem di mana “kekuatan menentukan kebenaran”.

Dukungan terbatas di Inggris

Di Inggris, jajak pendapat yang dilakukan perusahaan riset YouGov menunjukkan dukungan publik terhadap serangan AS terhadap Iran relatif rendah.

Survei yang dilakukan pada 2 Maret menunjukkan 49 persen warga Inggris menentang serangan tersebut, sementara 28 persen mendukungnya.

Mayoritas responden juga menolak penggunaan pangkalan Angkatan Udara Inggris untuk operasi militer AS terhadap Iran. Survei pada akhir Februari mencatat 58 persen responden menolak penggunaan pangkalan tersebut.

Bahkan ketika dalam survei berikutnya disebutkan bahwa operasi hanya ditujukan pada sasaran rudal, tingkat penolakan tetap mencapai 50 persen.

Survei tersebut juga menunjukkan 45 persen responden menilai pemerintah Inggris seharusnya tidak memuji maupun mengecam serangan AS terhadap Iran.

Sementara itu, 47 persen responden menilai Perdana Menteri Keir Starmer menangani ketegangan AS–Iran dengan buruk, sedangkan 34 persen menilai penanganannya baik.

Baca juga: China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran, Serukan Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah

Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.

Konflik tersebut memicu ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah serta serangan balasan dari Iran terhadap sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.

Author