Oleh: Noorhalis Majid
Sangat produktif, sepanjang kurun waktu empat tahun, sudah 78 lagu diciptakan oleh Khariadi Asa, dan 21 lagu telah berhasil diaransemen. Akrab dipanggil Yadie, seorang pencipta lagu yang juga berprofesi sebagai wartawan. Di antara lagu-lagu tersebut, ada yang diikutsertakan dalam lomba cipta lagu, bahkan baru-baru tadi, berhasil meraih juara 2 tingkat nasional.
Bertempat di Gedung Batas Kota (GBK) Banjarmasin, lagu-lagu yang telah diaransemen tersebut diluncurkan. Salah satu lagu bertema “Pantun Banjar”, dinyanyikan langsung oleh Khariadi Asa. Sementara lagu lainnya seperti “Jaruk Kambang Tigarun”, yang memperoleh juara 2 tingkat nasional, juga diperdengarkan kepada semua orang yang hadir.
Memperbincangkan lagu Banjar, adalah suatu upaya menumbuhkan perhatian publik terhadap satu produk kebudayaan. Lagu, bagian dari industri kreatif yang tidak saja bernilai ekonomis, namun juga berpotensi memajukan daerah. Sebab itu lagu tidak sekadar dicipta, namun juga diproduksi, diperkenalkan dan disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial popular.
Harus diakui, selama ini lagu Banjar kalah populer dibanding lagu-lagu daerah lain. Terutama lagu-lagu dari daerah Indonesia Timur, dengan didukung koreografer tari yang handal, terciptalah keharmonisan yang saling menguatkan antara lagu dan tari.
Beruntung ada sejumlah film yang mengangkat cerita lokal dan menjadikan lagu Banjar sebagai soundtrack. Dengan dijadikannya soundrack film, sedikit banyaknya lagi Banjar turut terangkat jadi populer.
Sebab itu, memopulerkan lagu, tidak mungkin dilakukan sendiri oleh penciptanya. Perlu kerja tim dan kolaborasi berbagai pihak. Termasuk melakukan rekayasa pasar, dengan memperhatikan cara kerja media sosial popular, sehingga mampu menjangkau publik tanpa batas.
Puja Mandela, seorang anak muda yang menggeluti dan mengamati dunia musik, didaulat menjadi pemantik obrolan pelucuran lagu Banjar di GBK pagi itu.
Ia berpendapat bahwa yang paling mendasar harus dilakukan oleh semua pemerhati dan pegiat lagu Banjar, adalah membentuk ekosistem bermusik yang mendukung lagu-lagu Banjar yang dicipta menjadi populer. Tanpa ekosistem yang memadai, sulit bagi lagu Banjar menjadi tuan di rumahnya sendiri, apalagi hingga populer pada tingkat nasional.
Pemantik lainnya, Dr. Sumasno Hadi, yang secara keilmuan memang mendalami soal musik, menyampaikan dukungan serta motivasi kepada semua pencipta lagu Banjar untuk terus berkarya dan berproduksi, tanpa memusingkan banyaknya kritik terkait apakah sesuai pakem dan kaidah lagu Banjar atau menyimpang.
Ciptakan saja lagu-lagu Banjar sebanyak mungkin, dan serahkan kepada pasar untuk menilainya. Tidak semua lagi yang disangka laku diterima pasar. Banyak lagu yang dianggap tidak bagus, ternyata justru diterima dan disambut antusias oleh pasar. Harus dipahami, pasar punya logikanya sendiri dan sering kali sulit dibaca.
Khariadi Asa menerima banyak masukan, terutama terkait strategi memopulerkan lagu Banjar dengan cara memotong per-bagian yang berpotensi diviralkan, dengan memanfaatkan media sosial paling diminati, guna membentuk selera dan menjadikannya pintu masuk untuk mengetahui lagu Banjar secara utuh.
Kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman, diperlukan agar lagu-lagu Banjar diminati lintas generasi, termasuk generasi sekarang dan masa depan.
Harus disadari, lagu tidak sekadar nyanyian, juga berfungsi sebagai pembentuk budaya, karakter dan bahkan identitas komunal dari warganya. Betapa bangga, bila lagu Banjar mampu memberi pengaruh pada arus kebudayaan yang lebih luas, hingga menasional dan bila mungkin menginternasional. Dengan demikian, cita rasa lagu Banjar, diterima dunia. Semoga.





