INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Setelah sukses besar di platform iOS, OpenAI resmi merilis aplikasi Sora untuk pengguna Android.
Aplikasi berbasis video AI yang disebut-sebut mirip TikTok ini kini tersedia secara terbatas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.
Meski baru hadir di Android, Sora sudah membawa seluruh fitur unggulan versi iOS. Salah satunya adalah fitur “Cameo”, yang memungkinkan pengguna menciptakan video AI versi dirinya sendiri melakukan beragam aktivitas sesuai perintah teks (prompt).
Baca juga: Michael Sunggiardi, Perintis Warnet Pertama di Indonesia, Tutup Usia
Sora pertama kali dirilis di iOS pada akhir September lalu dan langsung mencetak rekor. Dalam waktu kurang dari lima hari, aplikasi ini berhasil menembus angka satu juta unduhan—melampaui rekor peluncuran awal ChatGPT di platform yang sama.
Namun, di balik popularitasnya, kehadiran Sora juga memunculkan polemik. Sejumlah pengguna dilaporkan menyalahgunakan teknologi video AI ini untuk membuat konten menampilkan tokoh sejarah seperti Martin Luther King dalam situasi yang tidak pantas.
Meskipun OpenAI telah melarang pembuatan video tokoh publik yang masih hidup, aturan tersebut ternyata belum mencakup selebritas atau tokoh yang telah meninggal dunia.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan publik dan pakar etika digital. Mereka menilai penggunaan wajah tokoh sejarah atau selebritas yang sudah wafat berpotensi menyesatkan masyarakat, terutama bila video tersebut terlihat realistis dan beredar tanpa konteks.
Selain itu, OpenAI juga menghadapi tuntutan hukum baru terkait pelanggaran hak cipta karena pemanfaatan karakter populer seperti SpongeBob dan Pikachu di beberapa video buatan pengguna.
Peluncuran Sora di Android menjadi langkah besar bagi ekspansi OpenAI di ranah konten visual berbasis kecerdasan buatan.
Namun, perusahaan ini kini ditantang untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab etika agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan.





