INTERAKSI.CO, Banjar – Fajar baru saja menyingsing di Sungai Martapura ketika deretan jukung mulai merapat, riuh suara pedagang bercampur aroma sayur segar, buah masak pohon, dan jajanan tradisional.

Dari balik perahu-perahu kayu itu, terselip kisah tentang sebuah pasar yang bukan hanya mempertahankan warisan Kesultanan Banjar sejak 1526, tapi juga tengah menapaki arus digitalisasi yang mengubah wajah perdagangannya.

Pasar Terapung Lok Baintan di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, adalah ruang jual beli unik di tengah sungai. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banjar tahun 2024, penduduk di Kecamatan Sungai Tabuk sekitar 62.434 jiwa.

Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun. Sekitar 80 persen diantaranya mengelola usaha tani: padi, jagung, jeruk, dan buah musiman lainnya.

Pedagang dan pembeli sama-sama menggunakan jukung, dengan transaksi yang kadang memakai uang, kadang barter atau bapanduk. Sistem tukar-menukar ini tak sekadar memenuhi kebutuhan, tapi juga menguatkan ikatan sosial antarpedagang.

Pedagang dan pembeli di Pasar Terapung Lok Baintan. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Beberapa tahun terakhir, pasar ini mulai menerima pembayaran digital lewat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Itu melengkapi uang tunai dan bapanduk sebagai opsi pembayaran di Pasar Terapung Lok Baintan.

Pembayaran digital ini masuk sejak 2020, salah satunya lewat perkenalan seorang wisatawan yang juga pegawai bank kepada salah satu pedagang, Arbainah. Menurutnya, QRIS memudahkan transaksi, tapi penerapannya tak selalu berjalan lancar.

“Saya sebetulnya lebih nyaman langsung menggunakan uang tunai, jika menggunakan QRIS akan lambat untuk mendapatkan uangnya, karena jauh harus pakai taksi ke Sungai Lulut. Jadi, saya simpan dulu uang yang masuk, jika sudah cukup banyak uang yang masuk baru saya tarik uangnya,” kata Acil Ibay, sapaan akrab Arbainah kepada Interaksi.co, Kamis (14/8/2025).

Arbainah menambahkan, sekarang penarikan QRIS bisa lewat agen yang lebih dekat, tapi biaya adminnya bervariasi, bahkan kadang cukup tinggi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per transaksi.

“Setiap saya mengambil uang selalu ada potongan, hal itulah yang membuat saya bingung jika biasanya pembeli membayar Rp30.000 uang kita yang harus terpotong karena biaya admin, seharusnya dapat dilebihkan saat pembayaran menggunakan QRIS, setidaknya Rp5.000 dilebihkan, maka pembeli membayar Rp35.000. Namun, banyak yang belum paham akan hal itu,” tuturnya.

Namun bagi pedagang lainnya, Hj Bustan, QRIS justru membantu saat melayani wisatawan yang tak membawa cukup uang tunai.

“Kebanyakan wisatawan tidak tahu Pasar Terapung seperti apa. Ada yang mengira sekadar makan dan ngopi sambil menikmati pemandangan. Padahal dagangan kami tidak hanya itu. Ada suvenir, buah-buahan, dan terkadang akhirnya kami menyediakan opsi pembayaran melalui rekening pribadi, karena pernah menemui wisatawan kehabisan uang tunai,” jelasnya kepada Interaksi.co, Kamis (14/8/2025).

Pengelola Pasar Terapung Lok Baintan, Fahrul Raji, mencatat hingga saat ini ada sekitar 20 pedagang yang masih menggunakan QRIS, meski tidak semuanya aktif.

Penerapan dimulai sejak 2019, tak lama setelah Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) meluncurkan QRIS. Untuk menjangkau pedagang, mereka menggandeng Bank Mandiri dan Bank BTN untuk melakukan ‘jemput bola’.

Saat itu, kendala administratif seperti e-KTP rusak menghalangi sebagian pedagang untuk mendaftar. Hambatan lain datang dari sinyal internet yang sering tersendat di atas sungai.

“Kendala utamanya sinyal internet. Kadang saat scan barcode proses bayarnya lama,” jelasnya.

Pengelola Pasar Terapung Lok Baintan, Fahrul Raji menunjukkan topi tanggui yang dipasangi kode QR QRIS. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Tantangan tidak berhenti di situ. Mayoritas pedagang yang berusia di atas 50 tahun masih kesulitan memahami cara kerja QRIS. Beberapa memerlukan bantuan keluarga untuk menggunakan smartphone, sekadar mengecek pembayaran masuk atau tidak. Artinya, pedagang masih belum cukup familiar dengan penggunaan smartphone.

Beberapa pedagang bahkan meminjamkan kode mereka kepada pedagang lain, yang berujung pada salah paham pembagian hasil atau kebingungan soal potongan admin. Sementara itu, banyak pembeli tetap memilih uang tunai, baik karena kebiasaan maupun karena jaringan yang tidak selalu stabil.

Kondisi ini relevan dengan riset yang dilakukan oleh Ihsan pada tahun 2020 berjudul Efektivitas Kebijakan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Meningkatkan Sistem Transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Hasil riset menunjukkan, kendala Bank Indonesia Kalimantan Selatan dalam meningkatkan transaksi QRIS adalah budaya transaksi masyarakat lokal yang masih menganggap uang tunai lebih aman, karena QRIS merupakan hal baru sehingga ada kekhawatiran terhadap keamanannya.

Meski begitu, digitalisasi di Pasar Terapung Lok Baintan tak seharusnya surut. Pembayaran modern membawa keuntungan seperti transaksi lebih aman dan transparan. Bagi investor, ini menjadi isyarat bahwa Kabupaten Banjar dan sekitarnya mampu memadukan tradisi dengan modernisasi ekonomi rakyat.

Menurut Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, QRIS bukan hanya mempermudah transaksi, tapi juga mengurangi risiko kehilangan uang tunai, kekurangan kembalian, hingga peredaran uang palsu. Langkah ini menjadi pondasi menuju cashless society, bukan sekadar mengikuti tren global, tapi menjawab kebutuhan strategis untuk memperkuat daya saing UMKM.

Hambatan seperti literasi digital, jaringan internet, dan biaya admin memang nyata, namun bisa diatasi lewat kolaborasi pemerintah, perbankan, komunitas pasar, dan pelaku wisata. Dukungan berupa perangkat QRIS Soundbox, pelatihan dan edukasi penggunaan QRIS secara berkala, hingga insentif biaya admin bisa mempercepat adopsi.

Jika tantangan ini terjawab, Pasar Terapung Lok Baintan akan tetap menjadi wajah budaya sungai yang memikat, sekaligus simbol kesiapan Kalimantan Selatan, terlebih baru-baru ini telah dinobatkan secara resmi menyandang status UNESCO Global Geopark. Menyambut masa depan ekonomi digital, pasar ini menjaga tradisi, tapi tak takut melaju bersama arus teknologi.

*

Penulis merupakan Jurnalis di Interaksi.co sejak 2025. Pernah menjadi bagian dari peneliti efektivitas QRIS di Pasar Terapung Lok Baintan dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2024 didanai oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Author