INTERAKSI.CO, Batulicin — Kehadiran Selumbari, unit New Wave asal Batulicin, Kalimantan Selatan, melalui single perdananya “Tanpa Harus Sembunyi” mendapat perhatian dari jurnalis dan pengamat musik.
Band ini dinilai menghadirkan kontras yang menarik: secara musikal mengajak pendengar ‘joget’, tetapi secara lirikal menyimpan amarah dan kegelisahan yang kuat.
Aktivis musik Kalsel, Richy Petroza, menilai Selumbari sebagai band yang lahir dari pembacaan jujur atas zamannya. Menurutnya, emosi yang disampaikan dalam lirik terasa relevan dengan kondisi hari ini.
“Secara musikal mengajak kita berdansa, secara lirikal penuh amarah. Selumbari lahir mewakili zaman, emosi yang disampaikan dalam lirik relevan,” kata Richy yang dijuluki Bapak Skena Musik Tanah Bumbu itu.
Baca juga: 100 Tahun George Martin: Arsitek Sunyi Musik Populer
Sementara jurnalis musik Puja Mandela juga memberikan catatan positif. Ia mengaku telah mengenal Prima Yuda Prawira sejak proyek-proyek sebelumnya, seperti “Logika” dan “Baju Merah”. Namun menurutnya, Selumbari justru menjadi titik temu artistik yang paling kuat.
“Dari sekian karya musiknya, bagi saya ini jenis musik yang bisa mempertemukan kami berdua. Saya suka album Rio Duran Duran, Thriller Michael Jackson, dan bebunyian new wave 80-an,” katanya.
Ia menilai proyek ini sebagai fase penting dalam perjalanan kreatif Yuda sebagai musisi sekaligus produser. Isu yang diangkat, kata dia, sangat dekat dengan banyak orang: hidup di bawah tuntutan, ekspektasi berlebih, dan tekanan sosial.
“Ini adalah lompatan artistik bagi Prima Yuda Prawira. Sementara liriknya sudah bicara isu lain selain percintaan, sebuah tema yang sudah surplus sekali di Indonesia,” lanjutnya.
Puja Mandela juga melihat Yuda sebagai sosok yang lebih oldies. Jauh berbeda dengan Yuda beberapa tahun lalu. “Dia kelihatannya jadi lebih jadul sekarang. Nggak tahu kenapa,” ucapnya sambil tertawa.





