Oleh: Novyandi Saputra
ADA irisan yang nyaris tak terbantahkan antara jiwa punk dan hidup seorang nelayan. Keduanya tumbuh dari dunia yang keras, tak ramah, dan menuntut keberanian yang tidak semua orang miliki.
Punk seperti nelayan, lahir bukan dari kemewahan, tapi dari ketiadaan yang dipeluk dengan kesadaran. Mereka sama-sama bergerak bukan karena semuanya jelas, tapi justru karena semuanya serba gelap dan tidak pasti.
Punk menantang sistem, sementara nelayan menantang alam dan keduanya melakukannya dengan nyali yang sama; tanpa janji bahwa esok akan lebih mudah. Hidup bagi mereka bukan tentang kenyamanan. Bukan tentang duduk manis menunggu gelombang reda atau aturan berubah. Tapi tentang bagaimana terus melaju walau arah angin tak berpihak. Nelayan dan punk sama-sama paham: tidak semua perjuangan berasal dari pilihan, kadang ia lahir dari keterdesakan.
Mereka bergerak karena harus, karena berhenti berarti tenggelam baik secara harfiah maupun eksistensial. Mereka tak mencari sorotan, mereka mencari ruang untuk tetap bisa hidup tanpa harus tunduk. Dan yang paling mencolok dari keduanya: mereka tidak butuh tepuk tangan. Mereka hanya perlu laut, atau suara, sebagai tempat menuangkan segala resah dan keyakinan. Baik nelayan maupun punk tahu bahwa dunia kadang tak adil, tapi menyerah bukan bagian dari kamus mereka. Yang mereka jaga hanya satu: harga diri.
Sebuah prinsip yang membuat mereka tetap berdiri, bahkan saat gelombang menerjang atau sistem terus menekan. Karena bagi mereka, hidup bukan soal diterima, tapi soal tetap tegak meski tak dianggap.
Primitive Monkey Nose (PMN) bukan sekadar band punk. Mereka adalah nelayan suara; pembawa gelombang dari pesisir tenggara Kalimantan Selatan, tepatnya Tanah Bumbu, menuju panggung-panggung kecil yang sering dilupakan hingga hingar bingar pentas besar.
Baca juga:Â [EKSKLUSIF] Primitive Monkey Noose Bicara Musik, Politik Menggelitik, dan Rencana Besar 2024
Baca juga:Â Pagatan Menyambut Produser Muda Tanah Bumbu: Prima Yudha Prawira
Genre punk yang saling silang dengan panting menciptakan gaya tutur lokalitas ketengah pendengar yang urban. PMN seperti memberi kompas kepada kita untuk turut serta pada pelayaran mereka menunggangi gelombang.
Banyak orang mengira bahwa punk hanya milik kaum marjinal urban. Padahal dalam tubuh PMN, punk justru tumbuh dari laut; dari asin air, kerasnya angin, dan hidup nelayan yang sekali melaut tak pernah tahu apakah bisa kembali.
Di situlah nyawa musik mereka: bukan sekadar distorsi dan teriakan, tapi narasi perjuangan yang tak bisa dipisahkan dari kenyataan hidup.
Irisan punk dan nelayan menjadi narasi artistic yang tergambar pada PMN.
PMN lahir seperti bentukan karang yang dihantam gelombang, memecah ombak mencipta suara; bising tapi otentik. Seperti halnya suara-suara di pesisir dan di tengah samudera gelombang tak pernah ada suara yang lembut, hanya ada suara yang keras, karena hidup di pesisir dan di Tengah samudera tak pernah pelan.
Mereka tak pernah berdiam diri, karena kapal tak diciptakan untuk ditambatkan. Seperti nelayan yang bangun sebelum fajar, PMN menulis lirik dari pengalaman dan semangat bertahan.
Dalam dunia yang makin rapi, PMN memilih tetap liar dan tetap jujur. Mereka tidak menjual romantisme pantai. Sebaliknya mereka justru menggugat gelombang kehidupan.
PMN tak pernah diam menunggu panggilan. Seperti falsafah nelayan: lebih baik tenggelam daripada pulang tanpa hasil. Mereka ingin memberi jejak, bukan hanya suara, tapi warisan sikap. Sikap untuk terus melaut dalam hidup, dalam karya, dan dalam gerakan.
Mereka ingin semua orang menaikkan jangkar, mengembangkan layar, dan memulai pelayaran masing-masing. Sebab hidup tidak ditemukan di pelabuhan, tapi di tengah gelombang. Di laut lepas yang tak pernah tenang, tapi selalu jujur.
Mendengar PMN bukan hanya menikmati musik keras, tapi menyelami perahu kecil yang berani menantang laut luas. Perahu yang bisa karam kapan saja, tapi selalu memilih untuk tetap berlayar. PMN adalah pengingat bahwa musik bukan cuma hiburan, tapi bisa menjadi perahu. Perahu yang mengangkut keresahan, kemarahan, dan keberanian.
Di panggung, mereka mungkin berteriak. Tapi di balik itu semua, mereka sedang mengajak kita menoleh ke pesisir tempat orang-orang hidup tanpa jaring pengaman, tapi tetap punya nyali untuk terus maju. Dan dalam dunia yang makin sunyi oleh retorika, PMN hadir sebagai gelombang: tak bisa ditebak, tapi selalu jujur. Karena bagi mereka, musik bukan hanya soal panggung. Musik adalah lautan.
*
Penulis adalah Milanisti, Komposer di Gamalan Akaracita, & Dosen Universitas Lambung Mangkurat.
