jika puisi yang bagus haruslah
diisi dengan kejernihan kata-kata
tanpa membuatnya banjir berbatang
tabangan hutan, maka biarlah puisi
ini kita masukkan ke dalam keranjang
sampah daur ulang. tidak apalah ia
tidak dikenal karena tak termuat
dalam tumpang-tindih kanon puisi
di ruang antologi yang urung
terbaca sebab tebalnya
mengalahkan kisah para
penyair itu sendiri.
lagipula
puisi ini menulis
penyairnya sendiri
sebab si penyair yang
tak pandai membuat
syair tak sempat meluangkan
waktu menghadapi buku
dan kertas. tak punya keberanian
menulis omong kosong
yang tidak dipenuhi bumbu
puja-puji seperti rekan-rekannya
yang menulis hutan dari
penjara besi meja-meja
kafe, sambil menyesap kopi
dari kebun nun jauh dan bicara
jalan keluar bagi petani
puisi ini menulis
dirinya sendiri, membuat
halaman dengan tidak
dibantu oleh siapapun
kecuali sastra yang agung.
oh, terpujilah
kesusastraan.
terpujilah fadli zon
yang menulis ulang
sejarah, terpujilah
rekan-rekan seniman
yang meletakkan
logo kementerian
kebudayaan
di tiap flayer
kegiatan
terpujilah
sastra dan kroninya
di hadapan kebohongan
pemerintah yang agung.
terpujilah penyair yang
meminjamkan namanya
untuk puisi ini, meski ia
keparat tengik semata
yang mengharapkan
dana pensiun sebesar
empat puluh lima
juta saban bulan
sambil tetap
bicara sastra
meski harus
berkumur-kumur
setiap dua menit
sekali sebab menjilat
pemerintah itu
rasanya pait sekali.
Rafii Syihab. Penulis, pengajar, dan petani. Ia merupakan founder dari komunitas dan penerbitan Arkalitera. Menerbitkan Kiat-kiat Menyelesaikan Masalah Asmara (2025) bersama Musa Bastara dan Abdul Karim. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel. Cerpennya menjadi juara 1 dalam sayembara cerita pendek Aruh Sastra 2025 dan lima besar sayembara cerpen Bengkel Sastra UNJ (2025), puisinya termasuk 10 besar di festival yang sama. Novelnya: Memori Ruang Tubuh, akan segera terbit tahun 2026. Karya-karyanya yang lain dimuat di berbagai media daring dan luring, baik lokal maupun nasional sejak tahun 2017





