INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Banjir yang masih merendam sejumlah titik di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru, menyebabkan aktivitas warga terganggu.

Meski sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, tak sedikit warga terdampak yang memilih bertahan di rumah sambil berharap adanya perhatian dan solusi dari pemerintah daerah.

Pantauan di lapangan, kondisi warga terdampak cukup memprihatinkan, terutama lansia dan anak-anak yang harus bertahan di tengah genangan air.

Salah satu warga Komplek Terrace Pelangi, Jalan Tambak Buluh, Taridah, mengaku memilih tetap tinggal di rumah yang dianggapnya lebih aman dibandingkan mengungsi ke kantor kelurahan.

“Katanya di kelurahan sudah penuh dan banyak balita. Anak saya ada dua, tidak bisa tidur kalau ramai. Jadi saya memilih bertahan di sini saja karena rumah masih dekat,” ujarnya, Selasa (6/01).

Baca juga: Puluhan Warga Terdampak Banjir di Banjarbaru Mengungsi ke Kantor Kelurahan

Taridah menyebut, banjir di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, banjir sudah berulang dalam beberapa tahun terakhir, dengan kondisi terparah dialami warga pada 2021 lalu.

“Sudah sering. Tahun 2021 itu yang paling parah. Awal 2025 juga sempat banjir, dan sekarang terulang lagi,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan solusi konkret agar banjir tidak terus berulang, mengingat kawasan permukiman tersebut didominasi oleh lansia dan anak-anak.

“Harapannya ada solusi dari wali kota atau pemerintah supaya kami tidak kebanjiran terus. Di komplek ini kebanyakan orang tua dan anak-anak,” ungkapnya.

Selain merendam rumah, banjir juga menggenangi akses jalan dengan ketinggian air melebihi lutut orang dewasa, sehingga membahayakan warga. Kondisi ini memaksa sebagian warga menggunakan lanting seadanya agar anak-anak dapat melintas dengan aman.

Tak hanya itu, Taridah juga mengungkap kekhawatiran akan masuknya hewan liar ke dalam rumah saat banjir. “Ular, kelabang itu masuk ke rumah. Memang ular air tidak mematuk, tapi kalau ada anak-anak tetap berbahaya,” tuturnya.

Warga juga mengeluhkan kondisi air banjir yang diduga tercemar limbah pabrik tahu di sekitar kawasan permukiman, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Akibatnya, banyak anak-anak mengalami sakit, sementara orang dewasa mengeluhkan gatal-gatal.

“Airnya sebenarnya tidak sehat karena ada pembuangan dari pabrik tahu. Anak-anak banyak yang batuk pilek, orang dewasa gatal-gatal, jadi obat harus selalu sedia,” ujarnya.

Sementara itu, warga lainnya, Samsul, mengatakan kondisi air di dalam rumahnya mulai surut dibandingkan hari sebelumnya. “Kalau kemarin air masih masuk rumah, sekarang sudah aman, airnya belum masuk lagi,” ucapnya.

Meski demikian, Samsul menilai akses jalan masih menjadi kendala utama bagi warga yang memilih bertahan. Jalan yang belum dicor membuat kendaraan tidak bisa melintas, sehingga menghambat aktivitas warga, termasuk untuk bekerja.

“Motor tidak bisa masuk, jadi parkirnya jauh. Jalan ini terlalu lama belum dicor, rumah saya paling belakang, jaraknya bisa setengah kilometer,” pungkasnya.

Author