“Sholat kok hukuman. itu kewajiban”. Demikian bunyi postingan Isnan Masa’ad, seorang warga pada medsosnya. Banyak yang berkomentar, setidaknya 49 komentar kritis dituliskan, menyorot kasus yang lagi viral menyangkut oknum polisi diduga positif narkoba, dan dihukum dengan menyuruh sholat lima waktu.

Benar yang ditulis Isnan, semua muslim tahu, sholat itu kewajiban, bukanlah hukuman. Logika terhadap sholat sebagai kewajiban tidak boleh terbolak-balik dan lantas menjadikannya sebagai hukuman.

Apakah maksudnya menghukum secara positif agar menjadi sadar? Kalau demikian maksudnya, sekalian saja hukumannya bukan hanya sholat, tapi juga puasa, zakat dan haji. Biar sempurna hukuman itu. Atau sebaliknya, sempurna kekeliruan logikanya.

Menempatkan sholat sebagai hukuman, sesungguhnya mereduksi makna dan hakekat sholat. Bukankah sholat itu hadiah terbesar bagi kaum muslimin, Diberikan Allah secara langsung ketika Nabi Muhammad,SAW melakukan Isra Miraj.

Hadiah Istimewa, karena dengan sholat, umat muslim memiliki medium berdialog dengan Allah, minimal 5 waktu dalam sehari. Andaikan tidak ada sholat, entah dengan cara apa seorang muslim berdialog dengan Tuhannya?

Sholat juga lah yang menjadi pembeda antara muslim dan non-muslim. Para ulama telah banyak mengupas kedudukan sholat secara dalam, dan tentu saja tidak pernah menempatkannya sebagai hukuman.

Salah dalam berlogika, sering kali terjadi pada setiap orang, walau belum tentu maksudnya jahat. Sebab itu, sebelum melakukan sesuatu, apalagi seperti menjatuhkan hukuman, ada baiknya meminta pertimbangan obyektif dari pihak lain, sehingga minimal tidak terjadi kesalahan logika.

Dunia filsafat sudah lama mengidentifikasi kemungkinan kesalahan dalam berlogika, ahli filsafat menyebutnya dengan istilah logical fallacy. Artinya, kesalahan dalam penalaran atau kekeliruan logika, dimana argumennya mengandung penalaran yang salah. Berlogika harus dilatih, tidak cukup sekedar membaca. Harus dipraktikkan agar terbiasa.

Ahli bijak mengatakan, “orang akan sangat jeli terhadap kesalahan huruf pada tulisan, atau kesalahan sebut pada ucapan, namun sering kali tidak jeli pada kesalahan logika atau penalaran”. Sholat itu kewajiban, bukanlah hukuman. Logikanya tidak boleh terbalik.

Penulis: Noorhalis Majid

Author