Oleh: Noorhalis Majid

Perubahan apa sepanjang satu tahun ini? Ketika pertanyaan itu diajukan di media sosial dan komunitas-komunitas warga, sebagian besar komentar menyebutnya “upau”, alias tidak ada.

Upau itu ungkapan Banjar yang unik, artinya lebih mirip seperti “zonk”, terpedaya, tidak sesuai antara harapan dengan kenyataan. Boleh jadi kesalahannya karena espektasi terlalu tinggi, sehingga ketika tidak sesuai harapan, yang timbul adalah kekecewaan.

Mestinya sepanjang satu tahun ini tergambar jelas mau dibawa kemana banua ini. Minimal publik secara umum tahu, tentang banua yang sedang berbenah mengenai apa dan menuju kemana. Jujur, ketika ditanya kepada banyak orang, termasuk yang dianggap pintar dan kerap mengamati perkembangan banua, tidak ada kejelasan banua mau dibawa kemana?

Sektor pertanian, dan penguatan petani? Perikanan, khususnya nelayan pesisir, termasuk nelayan tangkap dan budidaya? Pun perkebunan karet, rotan dan segala industri penopangnya? Sektor pendidikan, adakah beasiswa untuk menjangkau universitas-universitas ternama bagi generasi cerdas banua? Olahraga, adakah pembenahan fasilitas, sarana prasaran, serta event-event yang diciptakan agar bersaing secara nasional? kecuali rencana studion sepakbola yang nanti pasti eksklusif. Pariwisata, adakah upaya untuk membenahi dan menatanya dalam segala lini? infrastruktur, berapa panjang ruas jalan baru yang akan dirintis? dan lain-lain sektor.

Berbagai program yang melibatkan partisipasi publik, dukungannya justru dipangkas. Sejumlah lembaga kemasyarakatan yang diniatkan membantu tugas pemerintah, anggarannya dibikin nol, sehingga partisipasinya dianggap tidak penting.

Publik justru disuguhkan berita serimonial yang tak berkesudahan dan minim dampak. Perjalanan dinas “sambung puting”, entah apa hasilnya bagi kesejahteraan warga. Rencana Pembangunan rumah dinas yang nilainya ratusan miliar. Respon serampangan “banyaki acara”, terkait banjir, bencana ekologi yang menyengsarakan warga di sebagian besar banua. Praktik KKN berbagai jabatan publik yang dianggap wajar dan strategis. Deposito trilyunan dana APBD di Bank Kalsel yang dianggap menguntungkan bagi daerah.

Kalau hal-hal yang tidak penting dan bukan persoalan mendasar yang dilakukan sepanjang setahun ini, maka kebudayaan Banjar lagi-lagi mengkritik dengan satu ungkapan, “kada bapala”.

Lebih dari sekedar tidak bermakna. “Kada bapala” artinya, bukan hal seperti itu yang warga bayangkan dan harapkan. Warga tahu, pemerintah punya kemampuan, punya dana, sumber daya, potensi, dan segalanya. Tenaga ahlinya banyak, namun hanya jagi hiasan. Stafnya pintar-pintar tapi cuman jadi panjangan serimonial. Dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki, mestinya banyak hal yang bisa dilakukan agar banua lebih maju dan sejahtera.

Tentu masih ada waktu untuk berbenah dan sadar, sehingga di tahun-tahun berikutnya, kerja pemerintahan menjadi “bapala”, bisa diharapkan dan diandalkan untuk membangun kesejahteraan bersama. Bukankan janji pian “bekerja bersama, merangkul semua”? bukan “berpura-pura bekerja, merangkul sanak keluarga”?

Author