Oleh: Wildanne
AKU mendengarkan Yorushika sejak “Ghost in a Flower”, lagu latar film “A Whisker Away” yang kutonton di sekitar tahun 2020 lalu: tahun kematian banyak nyawa, padamnya hidup-hidup dan kita yang mulai mengenal dunia baru di balik layar, tahun Pandemi Doomscroll dimulai. Setelah itu aku mengenal “That’s Why I Gave Up On Music”, “Night Journey” dan lainnya. Proyek kolaborasi suis & Eve dalam “Heikousen” juga menyenangkan. Dengan tema Valentine, n-buna menulis cinta seperti garis lurus yang takkan pernah bersilang.
Kini di 2025 aku mendengarkan Spring Thief, lagu lama yang mengejutkanku kembali dengan lirik megah yang merangkum kisah pencurian musim semi. Aku membaca lirik terjemahan Indonesia Kazelyrics, lirik terjemahan inggris Genius, dan membaca telaah Nidula G. yang ditulis dengan baik. Analisa yang dalam sekaligus mudah dibaca.
**
Cerita Spring Thief terbagi menjadi tiga bagian, dibuka dengan sosok aku yang berjalan di jembatan, mengintip biru langit di banyaknya awan, lalu duduk di bawah naungan pohon, menikmati musim semi, menikmati angin dan dikejutkan oleh bunga-bunga berguguran di atas kepalanya. Kita diberikan perasaan sosok “aku” yang begitu intens dalam sarilagu (chorus) pertama:
…we’re now forgetting to even breath…
…too much work to even blink..
…we’re now forgetting our voicеs…
…too much work to even say goodbye…
Right now, a spring storm is happening
N-buna, penulis lirik betul-betul piawai dalam menyatakan perasaan orang jatuh cinta, tentang bagaimana seseorang terpaku pada waktu yang dijalaninya. Kita diingatkan dengan hal-hal yang kita lupakan ketika bersama orang yang dicinta, sampai lupa/tidak menyadari nafas, terlalu sulit untuk berkedip, melupakan suara sendiri dan terlalu berat untuk mengucapkan selamat tinggal.
Di bait kedua, di hari selanjutnya, sosok aku melamun. Mengingat bila tidak begitu banyak lagi orang yang datang melihat bunga, bahwa tidak lagi dia mencium aroma musim semi di udara, dan bertanya “apakah musim panas akan datang tahun ini?”, momen kontemplatif.
Apakah semua kebahagiaan yang dirasakannya sekarang akan berakhir?
Keluar dari pikirannya, N-buna mengubah perhatian sosok aku ketika ia berjalan di jembatan: dari sebelumnya ia mencari biru langit di antara awan-awan, sekarang ‘aku’ melihat ‘kamu’ di ujung jalan. Kehadiran kekasih yang dikukuhkan, lalu kembali aku masuk ke dalam pikiran: berapa lama lagi waktunya yang tersisa untuk menikmati musim semi?
Ada detail menarik dari Nidula G. yang menyadari jika transisi antara bait (verse) kedua dengan sarilagu kedua memiliki makna ganda:
This time however, N-buna does something pretty interesting with the lyrics and composition. The last two words of the verse, “hana ni” are omitted and instead added to the beginning of the chorus. Suis stops singing the verse at “saku”, “blooming”, so the verse essentially reads like “again, just like yesterday, I’m sitting beneath the blooming…”. And then the chorus starts by finishing the sentence, with “hana ni”, “hana” meaning flowers, and “ni” relating the blooming to the flowers, before beginning with “we’re now forgetting to even breathe”. This may have the effect of having a double meaning where the first sentence of the chorus translates to something like “because of the flowers, we’re now forgetting to even breathe”, but I’m not sure about that.
Dalam sarilagu kedua, kita diberikan penjelas mengenai judul “Spring Thief” atau pencuri musim semi, yang didefinisikan sebagai “badai yang sekarang meniup bunga-bunga” dan membenarkan pikiran sosok aku, bahwa “waktu ikut terbawa bersama angin”. Meski demikian, ia masih merasa berat untuk melakukan sesuatu terhadap apa yang menimpanya, yang diwakili oleh kalimat “terlalu sulit untuk berdiri”.
Ada beberapa kebetulan dan perubahan menarik yang terjadi di sarilagu kedua ini:
Pertama: Badai musim semi (spring storm) di refrain pertama digunakan untuk mengibarkan bendera kebahagiaan, cinta yang berkobar seperti badai musim semi; namun kini badai itu pula yang dijadikan sebagai kambinghitam, penyebab musim semi & bunga-bunga pergi.
Kedua: Angin yang ditunggu sosok aku di dalam pembuka untuk berhembus, yang disebut juga di dalam sarilagu pertama sebagai sesuatu yang ditunggu, kini menjadi sesuatu yang harus bertanggungjawab terhadap ‘perginya waktu’, atau ‘hilangnya kebahagiaan yang hadir dalam kebersamaan’.
Ketiga: Langit yang diintipnya melalui awan-awan dalam pembuka lagu juga muncul kembali, namun kini ia berada di antara “bunga-bunga yang jatuh”.
**
Bagian terakhir dari cerita Spring Thief dimulai dengan pengakuan “hari ini, aku akan kembali melihatmu (menemuimu)”, kembali melakukan pertemuan seperti biasanya di bawah naungan pohon, namun bunga-bunga sudah berhenti mekar.
Lalu dalam titilagu (bridge), suis menyanyikan “aku akan menemuimu lagi besok”, “musim semi sudah berakhir” sebagai penegasan bila semuanya betul-betul berakhir, dan “Time is fluttering down as if it’s leaving behind traces of the days we spent together” yang kembali membuat kita mengutip analisis Nidula G. terhadap lagu ini:
The line “time is fluttering down as if it’s leaving behind traces of the days we spent together” is unbelievably cohesive in how many different concepts it links to and reflects upon. The most obvious of course being how time is fluttering down like the flower petals, which also describes how things are winding down in their relationship and their time is passing much slower now.
The most beautiful aspect of this sentence however is how the spring storm that time was linked to in the previous chorus obviously literally does leave traces behind. And as it’s the symbol of their relationship it’s as if fragments of their relationship are being left behind. And because N-buna metaphorically linked the spring thief of their relationship to the very time that it is stealing, he is able to create a much more eloquent analogy here at the end of the bridge.
Sarilagu terakhir: “tidak ada kata-kata yang cukup untuk menyanyikan cinta; bahkan untuk merangkai lirikpun begitu sulit; tidak mungkin kata-kata menceritakan mekarnya masa kini” sebagai bagian dari badai musim semi.
Dalam sarilagu terakhir, sosok aku masih tidak mampu berkedip:
Hanya ada kita berdua yang menyaksikan bunga-bunga,
Dan aku berharap badai musim semi untuk tidak berhenti
Hanya tinggal sedikit lagi
Aku bisa menghitung yang tersisa
Dua bunga tersisa lagi
Satu bunga yang tersisa
Hanya ada dedaunan yang tersisa, jatuh dengan lembut
Sekarang, musim semi telah berakhir
Dengan penuh keengganan berakhirnya kisah cinta yang diwakili musim semi, atau secara harfiah musim semi itu sendiri, N-buna menulis penutup yang tidak bisa dihindari.
Kita diberikan gambar keengganan sosok aku atas berhentinya badai musim semi, meski badai musim semi sudah disebutnya sebagai pencuri musim semi. Aku yang tidak ingin melepaskan kepergian.
*

Wildanne adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra kelahiran 2004, dari Universitas PGRI Kalimantan, Banjarmasin. Pecinta seri Supernova, Dewi Lestari & tetralogi Muhammad, Tasaro GK. Masih mencari jati diri melalui apa
saja yang lucu. Akan merilis kumpulan puisi digital: Partoilet (Ruangrasa Project,
2025).





