INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Limbah cair dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Landasan Ulin Utara 2 diduga mencemari lingkungan permukiman warga setempat.
Dugaan pencemaran tersebut mencuat setelah warga mengeluhkan limbah dapur yang dibuang ke saluran air mengalir hingga ke kebun warga dan berdampak pada kualitas air sumur masyarakat sekitar.
Ketua RT 03 RW 03 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Abdul Rahim, mengatakan persoalan pembuangan limbah dapur itu sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, warga telah beberapa kali menegur pihak mitra dapur, namun belum mendapat penanganan serius.
“Limbahnya mengalir ke selokan warga, akhirnya sumur warga ikut terdampak. Ini sudah lama terjadi dan dibiarkan, sampai sekarang kondisinya sudah tidak bisa ditahan lagi,” ujarnya, Rabu (28/1).
Baca juga: Kalsel Panas Terik Beberapa Hari Terakhir, BMKG : Tetap Waspada Cuaca Ekstrem
Ia menyebut, sebagian besar warga mengeluhkan perubahan kualitas air sumur yang diduga tercemar limbah dapur. Selain itu, aliran limbah yang masuk ke kebun warga membuat lahan tidak dapat lagi dimanfaatkan.
“Ini pembuangan limbah, kami sudah menegur beberapa kali ke mitra dapur, tapi selalu dijanjikan nanti-nanti,” katanya.
Atas kondisi tersebut, warga akhirnya melaporkan persoalan ini kepada pihak kelurahan dan dinas terkait agar segera dilakukan penanganan.
“Kami tidak mengganggu program pemerintah. Programnya bagus, kami hanya minta kebersihan dan lingkungan kami dijaga,” harap Abdul Rahim.
Menanggapi keluhan warga, Kepala SPPG Landasan Ulin Utara 2, Muhammad Iqbal, menyampaikan pihaknya telah mengambil langkah cepat untuk mengatasi permasalahan tersebut, khususnya pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
“Kami langsung bertindak cepat untuk mengatasi masalah IPAL di SPPG ini,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan mitra yayasan dapur serta dinas terkait guna mempercepat perbaikan sistem pengolahan limbah.
Meski tengah menghadapi persoalan teknis, dapur SPPG di Jalan Kurnia saat ini tetap melayani ribuan porsi makanan setiap harinya untuk penerima manfaat dari 14 sekolah.
“Selama ini tidak ada kendala besar, hanya saja karena over kapasitas penerima manfaat, untuk urusan dapur terkadang terjadi keterlambatan,” pungkasnya.





