INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Puskesmas Liang Anggang, Kota Banjarbaru, mencatat penyakit kulit akibat kutu air menjadi keluhan terbanyak warga terdampak banjir di wilayahnya.

Selain itu, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare juga mulai meningkat seiring kondisi lingkungan yang lembap dan aktivitas warga di genangan air.

Kepala Puskesmas Liang Anggang, Kota Banjarbaru, dr. Nina Andriani menjelaskan, keluhan gatal umumnya dialami warga yang kakinya sering terendam air banjir, terutama pada lansia dan ibu-ibu.

“Kalau terdampak banjir itu hampir sama keluhannya. Biasanya gatal-gatal, sebenarnya itu kutu air karena sering terendam, sela-sela kaki jadi lecet,” ujarnya, Kamis (22/1/26).

Baca juga: Harga dan Stok Bahan Pokok di Banjarbaru Aman, Warga Diimbau Tetap Tenang

Menurut Nina, tim Puskesmas telah turun langsung ke wilayah terdampak di Rukun Tetangga (RT) 1 hingga RT 3 secara bergantian sebanyak tiga hingga empat kali.

Obat yang paling banyak dibutuhkan dan dibagikan kepada warga adalah miconazole untuk mengatasi infeksi jamur kulit.

“Di RT 2 saja kemarin hampir 30 orang ambil obat gatal. Dari Dinas Kesehatan juga membantu drop obat, jadi cukup terbantu,” katanya.

Selain penyakit kulit, keluhan lain dari warga yang muncul adalah batuk-pilek dan diare, meski untuk diare jumlahnya masih belum terlalu banyak.

“Rata-rata sebenarnya kalau sakit orang yang apa kebanjiran sama ya kalau enggak gatal an batuk bilek diare,” tuturnya.

Sementara itu, penyakit tidak menular seperti diabetes melitus (DM), hipertensi, dan stroke tetap menjadi perhatian karena membutuhkan konsumsi obat rutin.

“Pasien DM dan hipertensi itu obatnya harus diminum terus. Tapi saat banjir, akses mereka ke layanan kesehatan agak sulit,” jelasnya.

Ia menyampaikan, pelayanan kesehatan untuk balita dan ibu hamil tetap berjalan. Bidan turut turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan hingga posyandu kini mulai kembali aktif seiring surutnya banjir.

Meski demikian, Nina mengingatkan orang tua agar membatasi anak-anaknya bermain air banjir karena dapat memperparah keluhan gatal-gatal.

“Anak-anak ini makin banjir malah makin main air, bahkan mandi. Itu yang bikin gatalnya jadi lebih banyak,” ujarnya.

Ia juga menekankan, pentingnya edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya terkait penggunaan antibiotik.

“Kalau diare atau pilek, jangan langsung minum antibiotik. Belum tentu itu karena bakteri, bisa karena virus. Banyak yang beli antibiotik sendiri, diminum cuma satu-dua kali, itu tidak benar,” tegasnya.

Untuk penanganan medis dalam kondisi banjir sifatnya bertahap, dengan prioritas utama pada keselamatan dan penanganan bencana, baru kemudian penyakit yang muncul.

“Banjir itu bukan langsung emergency medis. Yang pertama dilihat adalah kondisi bencananya dulu, setelah itu baru penyakitnya,” katanya.

Namun, Nina juga mengapresiasi peran aktif Lurah Liang Anggang yang dinilai sangat membantu koordinasi di lapangan.

“Pak lurah sangat aktif, beliau yang menghubungi kami, menyampaikan data warga terdampak dan yang sakit. Itu sangat membantu kami menyiapkan logistik dan obat-obatan,” pungkasnya.

Author