INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar MTN AsahBakat di Aula Kayuh Baimbai Balaikota Banjarmasin, Jumat (29/8/2025) pagi.

Mereka menghadirkan narasumber ahli tata suara: Merwan Adhi yang merupakan Sound Engineer Airy Audio Society, dengan moderator Manager FMTI Munir Sadikin.

Merwan memulai pemaparannya. Ia mengenalkan hal-hal dasar audio, termasuk peran transduser, sebelum menunjukkan bagaimana musik tradisi akustik bisa diubah menjadi elektrik melalui mikrofon.

“Menurut saya, ini hal yang paling dasar dan penting untuk dipahami karena banyak musisi tradisi bahkan praktisi audio juga masih belum terlalu fokus dengan ini,” kata Merwan Adhi saat menyampaikan teknis tata suara kepada peserta MTN AsahBakat.

Workshop MTN AsahBakat: Merwan Adhi Buka Wawasan Tata Kelola Suara Musik Tradisi
Merwan Adhi saat menyampaikan tata kelola suara musik tradisi. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Baca juga: FMTI Antasan Banjar Siap Digelar 29–31 Agustus Mendatang

Baca juga: Dialog Etnomusikologi Kupas Eksplorasi Bunyi Sungai di Kalsel

Dalam workshop, Merwan menjelaskan berbagai jenis mikrofon condenser, dynamic, dan ribbon lengkap dengan cara kerja, merek, hingga pola penerimaannya.

“Teman-teman (peserta) juga harus tahu mikrofon pola arah penerimaannya yang omnidirectional, bidirectional dan unidirectional. Klasifikasi itu dibagi lagi berdasarkan detail tangkapan suaranya. Ada cardioid, supercardioid dan hyper cardioid. Jadi, mikrofon itu tidak sembarangan mampu menerima dari arah mana saja,” jelasnya.

Dirinya juga memberikan tips praktis memilih mikrofon yang sesuai dengan karakter musik tradisi. Pemilihan mikrofon yang tepat, dipadukan dengan pemahaman karakter alat musik, dapat mengurangi risiko feedback dan bocoran suara.

“Target kita untuk menangkap suara alat musik tradisi agar suaranya detail. Kita kalau pertunjukan sudah menentukan close miking untuk satu instrumen, lalu menentukan mikrofon yang cocok,” jelasnya.

Peserta yang berasal dari mahasiswa seni pertunjukan dan praktisi musik sekaligus penampil Antasan Banjar Festival begitu aktif mengulik lebih jauh teknis audio.

Ada yang bertanya mengenai arah dan kendala mikrofon saat gladi resik berbeda dengan saat tampil, hingga penerapan metode yang tidak selalu sesuai ekspektasi walaupun ada sound engineer.

Workshop MTN AsahBakat: Merwan Adhi Buka Wawasan Tata Kelola Suara Musik Tradisi
Suasana MTNAsahbakat di Aula Kayuh Baimbai Balaikota Banjarmasin. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Menjawab semua pertanyaan itu, Merwan Adhi yang juga berpengalaman menjadi tech riders Gondrong Gunarto langsung mempraktikkan tata suara dan membagikan rig rundown kepada peserta.

Tim Manajemen Talenta Nasional Bidang Seni Budaya, Aristofani, menegaskan bahwa program MTN AsahBakat merupakan prioritas Kementerian Kebudayaan RI.

“Kami bekerjasama dengan FMTI Antasan Banjar untuk melihat talenta-talenta musik di Kalimantan,” kata Aristofani.

Ia menambahkan, banyak masyarakat yang punya hobi seni namun belum terdata. MTN AsahBakat menjadi jalan tengah untuk memfasilitasi itu.

Workshop ini juga mendapat sambutan baik dari peserta. Ahmad Rizali, komposer Sanggar Bima Cili Kabupaten Hulu Sungai Tengah, menyebut kegiatan ini membuka wawasan baru tentang sound system check untuk pertunjukan musik tradisi.

“Workshop kali ini sangat bermanfaat. Karena ada pembelajaran tentang teknis audio. Menurut saya, semua pemain musik tradisi memang sudah seharusnya belajar untuk memaksimalkan peralatan sound yang ada,” kata dia kepada Interaksi.co.

Workshop MTN AsahBakat: Merwan Adhi Buka Wawasan Tata Kelola Suara Musik Tradisi
Ahmad Rizali dari Sanggar Bima Cili Kabupaten Hulu Sungai Tengah saat diwawancarai. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Ia menambahkan, selama tampil, seringkali mikrofon tidak berbunyi atau tidak sesuai karakter yang diinginkan.

”Ini seringkali terjadi, baik lomba tari ataupun lomba musik pasti terkendala dengan masalah mikrofon yang tidak berbunyi. Bahkan, penampilan kami di daerah hingga nasional,” katanya.

Dirinya berharap, kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara rutin setiap tahunnya.

“Tentunya, kegiatan ini bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Ini menjadi langkah kami untuk berkembang dan menaikkan level musik tradisi di Kalimantan Selatan,” harapnya.

Author