INTERAKSI.CO, Oslo – Perusahaan tambang mineral asal Norwegia, Green Minerals, resmi mengumumkan langkah strategis membentuk cadangan Bitcoin (BTC) sebagai bagian dari integrasi teknologi blockchain dalam model bisnis mereka.
Nilai alokasi dana yang disiapkan mencapai US$1,2 miliar, menjadikannya salah satu rencana pembentukan treasury Bitcoin terbesar oleh perusahaan berbasis sumber daya alam.
Ketua Eksekutif Green Minerals, Ståle Rodahl, menyebut bahwa Bitcoin dipilih karena sifatnya yang terdesentralisasi, tahan inflasi, dan tidak terpengaruh oleh intervensi pemerintah.
“Ini bukan sekadar lindung nilai terhadap pelemahan fiat, tetapi juga bagian dari inovasi keuangan berkelanjutan,” ujar Rodahl dalam konferensi pers, Selasa (24/6/2025).
Menurutnya, strategi ini sangat relevan bagi perusahaan dengan proyek jangka panjang dan kebutuhan belanja modal besar, sebagaimana yang dihadapi oleh sektor pertambangan.
Selain itu, teknologi blockchain juga dinilai dapat meningkatkan transparansi rantai pasok, membantu dalam sertifikasi asal mineral, serta mengoptimalkan efisiensi operasional tambang.
Namun, pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin dengan strategi ini. Saham Green Minerals anjlok hampir 35% setelah pengumuman, didorong oleh kombinasi antara ketidakpastian kebijakan tambang laut dalam di Norwegia dan kekhawatiran terhadap potensi larangan penambangan kripto yang dianggap boros energi.
Beberapa analis menilai langkah ini sebagai “spekulatif tinggi” di tengah tantangan regulasi dan volatilitas harga Bitcoin.
Meski demikian, Rodahl tetap optimistis dan menyatakan bahwa Green Minerals sedang merintis jalan baru di sektor pertambangan berbasis teknologi.
“Kami tidak hanya menambang mineral dari laut, tapi juga menambang masa depan,” kata Rodahl.
Langkah Green Minerals ini menambah daftar perusahaan global yang mulai melirik aset digital sebagai bagian dari strategi keuangan, mengikuti jejak perusahaan teknologi seperti MicroStrategy dan Tesla, meski dengan konteks industri yang sangat berbeda.