INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kota Seribu Sungai. Julukan ini menjadi pertanyaan yang kemudian dibahas dalam bedah buku Venesia dari Timur: Persebaran Sungai dan Kanal di Banjarmasin, Karesidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur Abad ke-19 Hingga Abad ke-20.

Bedah buku ini menjadi rangkaian akhir dari kegiatan Bamara Bookfair 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Banjarmasin di Lapangan Parkir Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kamboja, Minggu (29/6/2025) petang.

Diskusi buku ini menghadirkan dua narasumber utama: Mansyur, sejarawan sekaligus penulis buku dari Universitas Lambung Mangkurat, dan Ikhsan Alhak, Kepala Dispersip Kota Banjarmasin.

Ikhsan membuka sesi diskusi dengan mengajak peserta menelusuri keberadaan kanal-kanal tua di Banjarmasin, seperti handil dan antasan. Ia menyebut kanal-kanal ini dulunya berfungsi sebagai jalur transportasi sekaligus sistem irigasi Orang Banjar.

“Julukan itu (Venesia dari Timur) tidak terlalu berlebihan karena ada beberapa kemiripan topografi, geografi, morfologi dan sebagainya. Itu juga dibuktikan dengan peta buatan Belanda, banyak kanal-kanal yang membelah Kota Banjarmasin,” ujarnya.

Suasana kegiatan bedah buku Venesia dari Timur di Lapangan Parkir RTH Taman Kamboja. Foto: Interaksi.co/Rezaldi

Baca juga: Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin Ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Kota

Baca juga: 35 Tahun LPM INTR-O: Dari Jurnalisme Mahasiswa ke Diskusi AI dan Critical Thinking

Setelah pemaparan Ikhsan, giliran Mansyur yang mengulas isi buku melalui pendekatan sejarah. Ia menuturkan bahwa penamaan buku Venesia dari Timur lahir dari cara Pemerintah Kolonial Belanda mempromosikan wisata di wilayah koloni melalui kartu pos.

“Jadi, kalau kita berkirim pos ke luar negeri itu selalu ada foto dan gambar. Disitulah ada tertulis Bandjermasin Venetie van het Oosten,” kata sejarawan yang juga menyandang gelar Anugerah Cendekia Kesultanan Banjarmasin itu.

Lebih lanjut, Mansyur menjelaskan buku ini juga menyoroti banyaknya istilah lokal yang digunakan untuk menyebut aliran sungai. Keberagaman istilah itu pula yang membuat julukan Kota Seribu Sungai melekat di Banjarmasin.

“Tapi itu hanya penyebutan istilah. Karena dari jumlah pendataan itu sendiri, tidak sampai seribu,” jelasnya.

Pembahasan kanal pun tak lepas dari penjelasan soal klasifikasi. Mansyur membagi kanal menjadi dua: kanal tradisional Banjar dan kanal buatan kolonial Belanda. Ia menyayangkan bahwa banyak kanal tradisional kini justru tak dikenal masyarakat.

“Banyak yang tidak bisa membedakan antara Anjir, Antasan, Handil, Tatah, Saka dan seterusnya. Banyak yang menyamakan, tapi sebenarnya berbeda,” tuturnya.

“Contoh, yang bisa dikategorikan Anjir itu menghubungkan dua saluran sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Kapuas dinamakan Anjir Serapat,” sambungnya.

Diskusi bedah buku ini juga menjangkau peranan sungai dan kanal di Banjarmasin saat ini. Peserta yang datang dari berbagai kalangan usia ini tampak antusias bertanya, terutama soal istilah lokal seperti lok dan samuda.

Ditemui seusai acara, Kepala Dispersip Banjarmasin Ikhsan Alhak menjelaskan bahwa buku Venesia dari Timur merupakan karya literasi terbaru yang penting bagi masyarakat kota.

“Buku ini berisikan sejarah dari zaman Kolonial Belanda terhadap manajemen dan pengelolaan sungai, kemudian istilah-istilah kanal di Kota Banjarmasin dan peran penting sungai di masa depan,” jelas Ikhsan kepada Interaksidotco.

“Ini memberikan semangat kepada kita bahwa perlu langkah serius untuk melakukan revitalisasi sungai, mengembalikan fungsi sungai yang tidak hanya sebagai jalur transportasi tetapi fungsi ekologi, budaya, pasar. Sungai-sungai yang mati, dihidupkan kembali agar air pasang atau calap bisa teratasi,” tandasnya.

Author