“Dari teriakan azan yang bersaing dengan dentuman senjata hingga langkah kecil perempuan desa membawa bendera, lahirlah sebuah sumpah kemerdekaan.”
INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Pertunjukan drama kolosal Nafiri Proklamasi karya Hijromi Arijadi Putera memukau ratusan penonton di halaman Balai Kota Banjarmasin, Minggu (17/8/2025) petang.
Pentas ini lahir dari kolaborasi tiga sanggar seni: Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya (KS3B) Kalimantan Selatan, Sanggar Seni Nuansa, dan Ruang Aktor.
Menariknya, itu digarap lima pengarah laku sekaligus. Mereka adalah Fierhansyah, Handriyan Yudha Sakti, Bayu Bastari Setiawan, Dea Sanderta, dan Hijromi Arijadi Putera.
Selama kurang lebih 14 menit, para tamu undangan upacara penurunan bendera HUT ke-80 RI diajak untuk merefleksikan perjuangan panjang rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan pada peristiwa 17 Mei 1949.
Salah satu sutradara, Bayu Bastari Setiawan, menyebut Nafiri Proklamasi diadaptasi dari naskah Nyanyian Senyap dari Padang Batung karya Hijromi. Dari situ, sosok pejuang Hasan Basry dihidupkan kembali sebagai inspirasi utama.
“Pertunjukan ini sebenarnya ingin memberikan pesan kepada kita semua bahwa kemerdekaan yang dinikmati sekarang tidak lepas dari keberanian dari pendahulu kita,” kata Bayu kepada Interaksi.co, saat ditemui seusai pentas.

Baca juga: Burhanuddin Soebely dan Akar Budaya dalam Karya Teaternya
Baca juga: Ambisi dan Kegilaan Manusia dalam Pertunjukan Teater ‘The King in Yellow’
Dia menuturkan, persiapan pementasan sudah berlangsung sejak lama. Para pemain sejak awal telah memahami alur cerita. Masing-masing sanggar kemudian memilih penari, aktor, hingga pemusik terbaik untuk tampil.
Latihan gabungan berlangsung intensif. Selama tiga hari, mereka berlatih delapan jam setiap pertemuan. Hasilnya, kolaborasi di panggung berjalan mulus.
“Tidak ada kendala yang begitu berarti. Karena memang teman-teman ikut dalam kegiatan ini sudah pilihan dari masing-masing sanggar. Ketika ketemu, semuanya bisa saling melengkapi,” beber Bayu.
Drama kolosal ini, lanjutnya, bukan sekadar hiburan, melainkan diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat.
“Momentum ini bisa jadi salah satu tonggak kesadaran kita sebagai masyarakat untuk berkontribusi dengan perannya masing-masing,” pungkasnya.