INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Tanpa disadari, sejumlah kebiasaan umum dalam kehidupan sehari-hari ternyata dapat berdampak buruk pada kesehatan otak.

Padahal, organ ini berperan penting dalam mengatur seluruh fungsi tubuh—dari berpikir, mengingat, hingga mengendalikan emosi.

Ahli saraf Jamey Maniscalco, Ph.D., mengungkapkan enam kebiasaan tersembunyi yang bisa menurunkan fungsi otak jika dilakukan terus-menerus.

Baca juga: Jalan Kaki Terbukti Efektif Kurangi Lemak Perut dan Risiko Penyakit

1. Begadang dan kurang tidur

Tidur bukan sekadar waktu istirahat. Menurut Maniscalco, saat tidur otak justru bekerja membersihkan zat berbahaya, mengolah emosi, dan memperkuat memori.

Kurang tidur kronis dapat mengganggu proses pembersihan protein beta-amiloid—zat yang menumpuk di otak penderita Alzheimer.

Penelitian terhadap 8.000 orang menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam per malam di usia 50–70 tahun meningkatkan risiko demensia. Idealnya, tidur tujuh hingga sembilan jam per malam untuk menjaga kesehatan otak.

2. Merokok

Rokok bukan hanya merusak paru-paru dan jantung, tetapi juga mempercepat kerusakan neuron. Kandungan kimia di dalam asap rokok dapat menembus sawar darah otak dan memicu peradangan kronis.

Menurut American Heart Association, perokok berisiko 30 persen lebih tinggi mengalami demensia dan 40 persen lebih tinggi terkena Alzheimer.

3. Minum alkohol

Konsumsi alkohol secara rutin terbukti menyebabkan penyusutan volume otak dan kerusakan jaringan putih yang berperan dalam komunikasi antar sel saraf. Bahkan satu gelas per hari dapat menurunkan fungsi otak.

“Alkohol adalah depresan sistem saraf pusat sekaligus racun bagi neuron,” jelas Maniscalco.

4. Kurang makan makanan bergizi

Otak membutuhkan energi besar, sekitar 20 persen dari total kebutuhan tubuh. Asupan bergizi seperti sayur, buah, biji-bijian, kacang, dan ikan membantu meningkatkan volume otak dan memperlambat penurunan kognitif.

Sebaliknya, makanan ultra-proses mempercepat gangguan daya ingat.

5. Terjebak rutinitas yang monoton

Otak memerlukan tantangan baru agar tetap aktif. Kegiatan seperti belajar hal baru, bermain teka-teki, atau menjelajahi tempat berbeda dapat memperkuat koneksi saraf. Tanpa stimulasi, otak cenderung “malas” dan kehilangan ketajaman berpikir.

6. Terlalu sering mengakses media sosial

Platform seperti TikTok dan Instagram dirancang untuk memicu dopamin, yang dapat membuat otak kecanduan rangsangan instan.

Penggunaan berlebihan terbukti mengurangi materi abu-abu di area otak yang berperan dalam kontrol diri dan pengambilan keputusan.

Batasi waktu layar dan prioritaskan interaksi langsung agar keseimbangan emosi tetap terjaga.

Menjaga kesehatan otak bukan hal sulit, tetapi membutuhkan kesadaran untuk mengubah kebiasaan kecil sehari-hari. Sebab, kebiasaan baik yang dilakukan konsisten akan menjadi investasi berharga bagi daya ingat, fokus, dan kesejahteraan mental jangka panjang.

Author